Himpun Data Pertanian, Pemerintah Diimbau Rangkul Startup

Firdaus, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Pemerhati Hortikultura, sekaligus Kepala Divisi Pemasaran dan Kerja Sama Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, mengimbau kepada pemerintah untuk merangkul usaha rintisan (startup) dalam bidang pertanian demi digitalisasi sektor pertanian.

Sebagai permulaan, semisal, untuk menghimpun data-data pertanian. Selama ini, ia menilai validitas data tidak jarang meragukan. “Uang negara itu sebetulnya banyak untuk dialokasikan ke pertanian. Subsidi benih itu bisa Rp1,5 triliun-Rp2 triliun. Cuma, validitas data itu seringkali dipertanyakan,” ungkapnya, Kamis (3/10).

Padahal, menurut ia, bisa saja pemerintah memanfaatkan startup untuk mendapatkan data-data dan digitalisasi pertanian. Dengan begitu, aktivitas pertanian, seperti penanaman, penggunaan pupuk, hingga produksi dapat dipantau dan direkam.

Nah, jika data-data tersebut sudah terhimpun, pemerintah dapat merencanakan program yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga menjadi lebih efektif dan efisien.

“Kelihatan kan data produktivitasnya apa? Lebih tinggi dimana? Lebih rendah dimana? Darisana, pemerintah bisa melakukan program,” terang Firdaus.

Ide ini, ia menilai sesuai dengan pemikiran dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin mengembangkan industri 4.0 dan digitalisasi. “Itu bisa direalisaskan dan diimplementasikan disini (sektor pertanian,” sambungnya.

Firdaus mengkomparasikan implementasi ide digitalisasi pertanian di luar negeri. Menurut dia, setiap negara yang mau mengimpor komoditas akan memakai data yang telah dihimpun dari aktivitas pertanian. Alhasil, pencatatan dan aktivitas dapat menghasilkan Good Agricultural Practices (GAP).

Tracability (pelacakan) itu ada dan berangkat dari registrasi. GAP, Good Agricultural Practices. Itu poin-nya semua ada bagaimana mencatat, mendokumentasikan semua kegiatan yang ada,” terangnya.

Menurut data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengenai perkembangan kontribusi lima sektor tertinggi PDB di Indonesia, yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, selalu menempati peringkat ketiga dengan jumlah sebesar 13 persen dari tahun ke tahun sejak 2014.

Yuli Sri Wilanti, Asisten Deputi Agribisnis Kemenko Perekonomian RI menyebut hal itu memperlihatkan betapa besar kontribusi sektor pertanian di Indonesia.

“Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati peringkat ketiga kontributor tertinggi, setelah Industri dan perdagangan. Hal ini menunjukkan peran pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia itu penting dan strategis,” pungkasnya.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191003174622-92-436484/pemerintah-diimbau-rangkul-startup-himpun-data-pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *