Tersangka Kasus Rasialisme Papua adalah ASN Pemkot Surabaya

Tersangka kasus rasialisme di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya, SA adalah seorang aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Hal tersebut dibenarkan oleh Ari Hans Siamela, kuasa hukum SA.

Hingga saat ini, Polda Jawa Timur telah menetapkan dua tersangka, yaitu SA dan Tri Susanti alias Susi dalam kasus pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya.

“Iya betul (PNS). Di instansi Pemkot Surabaya,” ungkap Ari Hans Siamela di Mapolda Jawa Timur, Selasa (3/9).

Ari tidak bersedia menjabarkan lebih jauh mengenai jabatan dan identitas kliennya. Dia hanya menegaskan bahwa keberadaan AS di Asrama Mahasiswa Papua ketika pengepungan bukan sebagai PNS.

Kala itu, imbuhnya, AS datang karena menerima kabar ada Bendera Merah Putih yang dibuang ke selokan air.

“Bukan sebagai PNS tapi sebagai warga Surabaya yang terpanggil melihat atau mendengar ada bendera jatuh, dan datang,” ungkap dia.

Sementara itu, Eddy Christijanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Kota Surabaya juga membenarkan bahwa SA adalah PNS di Kota Surabaya. Eddy menyebutkan surat panggilan dari Polda Jatim untuk SA juga sudah pernah disampaikan ke Camat setempat.

“Iya iya [ASN] Jenenge aku lali,” ungkap Eddy melalui sambungan telepon.

Kemudian SA menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Polda Jawa Timur pada Senin kemarin (2/9). Dia menjalani pemeriksaan lebih dari 12 jam, dicacar paling tidak dengan 37 pertanyaan dan baru selesai pada Selasa dini hari (3/9).Eddy enggan bicara banyak soal pendampingan hukum yang akan diberikan oleh Pemkot Surabaya untuk SA. Dia menyebutkan Pemkot Surabaya ingin mengikuti proses hukum yang berjalan terlebih dahulu.

“Katanya kan ada bukti video, kita belum tahu videonya seperti apa. Saya belum tahu (bantuan hukum). Tapi saya sudah laporkan ke Pak Fikser (Kabag Humas), nanti Pak Fikser yang melaporkan pada Ibu (Wali Kota, Tri Rismaharini),” ungkap Eddy.

Diketahui, Polda Jawa Timur telah menetapkan SA sebagai tersangka rasialisme ketika terjadi pengepungan di Asrama Mahasiswa Papua, Surabaya sejak Jumat lalu (30/8).

SA dijerat dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Tidak hanya SA, Polda Jawa Timur juga telah menetapkan Tri Susanti alias Susi sebagai tersangka pengepungan Asrama Mahasiswa Papua, Surabaya.

Berbeda dengan SA yang disangkakan dengan pasal rasialisme, Susi dijerat dengan pasal ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong.

Susi dikenakan pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 160 KUHP, pasal 14 ayat (1) ayat (2) dan pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190903065106-12-426982/tersangka-kasus-rasialisme-papua-pns-pemkot-surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *