September Ceria bagi para Konsumen PLN, Bank, hingga Driver Ojol

Tampaknya, lagu ‘September Ceria’ dari penyanyi Vina Panduwinata cocok dijadikan latar nada pada bulan september ini. Bukan tanpa sebab, beberapa kebijakan dianggap menjadi kabar baik yang mampu menceriakan para pelanggan listrik, nasabah perbankan, hingga sopir ojek via daring (online). Berikut kebijakan yang diterapkan pada awal September 2019:

Biaya Transfer Antar Bank Susut

Per 1 September 2019, Bank Indonesia (BI) menurunkan biaya pengiriman uang atau transfer antar bank dari sebelumnya Rp5.000 per transaksi menjadi hanya sebesar Rp3.500. Namun, hanya untuk sistem kliring nasional BI (SKNBI).

SKNBI adalah sistem pembayaran yang mendukung stabilitas sistem keuangan. Sistem ini memungkinkan transfer dana dilakukan secara elektronik meliputi kliring debet, dan kliring kredit.

Pemakaian kliring memiliki jadwal tertentu. Per 1 September 2019, kliring akan dilakukan selama sembilan kali atau setiap jam di hari kerja. Sebelumnya, pengiriman uang melalui kliring hanya dapat dilakukan dua kali sehari.

Mengutip situs BI, jam operasional kliring debet diselesaikan pada hari yang sama, kecuali untuk wilayah Jakarta dan Surabaya yang dilakukan H+1 atau keesokan harinya. Sementara itu, untuk kliring kredit dimulai pukul 08.15 WIB sampai dengan 15.30 WIB.

Apabila pengiriman uang tidak perlu terburu-buru, maka nasabah bisa memakai layanan kliring sebagai alternatif transfer. Namun, bila nasabah mendesak, maka pilihannya ialah menggunakan layanan transfer online dengan biaya yang umumnya Rp6.500-Rp7.500 per transaksi.

Pelanggan PLN Dapat Kompensasi Tagihan Listrik

Akibat listrik padam selama sehari penuh yang terjadi pada 4 Agustus 2019 lalu, pelanggan PLN mendapatkan kompensasi. Dwi Suryo Abdullah selaku Vice President Public Relations PLN menyebutkan kompensasi dapat dilihat pada tagihan rekening bulan September 2019.

Khusus pelanggan prabayar, kompensasi akan terlihat dari bukti pembelian token pertama setelah 1 September 2019.

Konsumen mendapatkan kompensasi sebesar 35 persen dari biaya beban rekening minimum untuk konsumen golongan tarif penyesuaian (adjustment). Sedangkan, bagi konsumen golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian (Non Adjustment), kompensasi yang diperoleh sebesar 20% dari biaya beban atau rekening minimum.

“Untuk pelanggan prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan listrik pascabayar,” terang Dwi Suryo melalui keterangan tertulis.

Khusus untuk pelanggan premium, PLN akan memberikan kompensasi sesuai Service level Agreement (SLA) yang telah ditandatangani bersama.

“Dalam kondisi normal, seharusnya pembayaran kompensasi dibayarkan pada Bulan Oktober. Namun untuk kali ini, kami mempercepat pembayaran kompensasi di bulan September, baik prabayar maupun pascabayar.” imbuh Dwi.

Tarif Baru Tambah Pendapatan Sopir Ojol

Per 2 September, aturan tarif baru ojek online (ojol) sudah berlaku di seluruh Indonesia. Tarif baru berlaku di 224 kota wilayah operasional Grab dan 221 kota wilayah operasional Gojek di seluruh Indonesia. Sebelumnya, tarif baru Ojol hanya berlaku di 123 kota saja.

“Hari ini kami umumkan bahwa mulai tanggal 2 September pemberlakuan tarif ojek online berlaku di seluruh Indonesia,” ungkap Ahmad Yani selaku Direktur Angkutan dan Multimoda Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Aturan tarif ojol itu tertera dalam Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) Nomor 348 Tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi.

Mengutip regulasi tersebut, disebutkan biaya jasa atau tarif terdiri dari tiga tarif meliputi tarif batas atas, tarif batas bawah, dan tarif minimal. Tarif tersebut merupakan tarif bersih yang didapatkan pengemudi setelah potongan biaya tidak langsung berupa biaya sewa penggunaan aplikasi.

Biaya minimal adalah tarif yang harus dibayarkan oleh penumpang untuk jarak tempuh maksimal 4 kilometer (Km).

Besaran tarif ditetapkan berdasarkan zonasi, terdiri dari tiga zona. Zona I meliputi wilayah Sumatera dan sekitarnya, Jawa dan sekitarnya selain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dan Bali.

Zona II meliputi wilayah Jabodetabek. Sementara zona III mencakup Kalimantan dan sekitarnya, Sulawesi dan sekitarnya, Kepulauan Nusa Tenggara dan sekitarnya, Kepulauan Maluku dan sekitarnya, serta Papua dan sekitarnya.

Rinciannya, zona I tarif batas bawah sebesar Rp1.850 per Km dan tarif batas atas sebesar Rp2.300 per Km. Sedangkan tarif minimal zona I sebesar Rp7.000 per Km-Rp10 ribu per Km.

Sementara zona II tarif batas bawah sebesar Rp2.000 per Km dan tarif batas atas sebesar Rp2.500 per Km. Sedangkan tarif minimal zona I sebesar Rp8.000 per Km-Rp10 ribu per Km.

Terakhir zona III tarif batas bawah sebesar Rp2.100 per Km dan tarif batas atas sebesar Rp2.600 per Km. Sedangkan tarif minimal zona I sebesar Rp7.000 per Km-Rp10 ribu per Km.

Sebagai contoh, tarif di Jakarta dan Bogor yang masuk di zona II yaitu sebesar Rp2.000 per Km untuk tarif batas bawah dan Rp2.500 per Km untuk tarif batas atas. Sedangkan tarif minimal ojol di Jakarta dan Bogor sebesar Rp8.000 per Km-Rp10 ribu per Km.

Untuk pengawasan, Kemenhub bekerja sama dengan 25 Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) di seluruh Indonesia dan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190903110329-92-427070/september-ceria-bagi-konsumen-pln-bank-sampai-sopir-ojol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *