Rupiah Stagnan di Angka Rp14.035 per Dolar AS

Tercatat nilai tukar rupiah tercatat berada di posisi Rp14.035 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (10/9) pagi.

Dibandingkan dengan penutupan pada Senin (9/9) kemarin yang juga ditutup Rp14.035 per dolar AS, posisi rupiah stagnan.

Pergerakan mata uang utama Asia pada pagi hari ini bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti yen Jepang sebesar 0,18 persen, dolar Singapura sebesar 0,09 persen, dan baht Thailand sebesar 0,07 persen.

Namun, terdapat pula mata uang yang menguat terhadap dolar AS seperti ringgit Malaysia sebesar 0,17 persen, won Korea Selatan sebesar 0,07 persen, dan peso Filipina sebesar 0,05 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong terpantau stagnan terhadap dolar AS.

Nilai tukar mata uang negara maju tercatat seperti  euro dan poundsterling Inggris melemah terhadap dolar AS dengan nilai masing-masing 0,03 persen dan 0,02 persen. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.

Ibrahim Assuaibi, Direktur Utama PT Garuda Berjangka  menyebutkan rupiah sejatinya masih bisa menguat hari ini lantaran pelaku pasar tengah mengantisipasi beberapa peristiwa.

Pertama, adalah pertemuan Bank Sentral Eropa yang dijadwalkan pada besok Kamis (12/9) mendatang.

Banyak pihak memprediksi bahwa otoritas moneter Eropa ini akan memberikan stimulus terbaru demi menangani ekonomi Eropa yang sedang lesu.

Pada kuartal II lalu, tercatat pertumbuhan ekonomi Uni Eropa 0,2 persen atau menyusut setengahnya ketimbang pada kuartal sebelumnya yang sebesar 0,4 persen.

Namun, berdasarkan data yang dirilis pada Senin (9/9) waktu setempat kemarin, ternyata data ekspor Jerman pada Juli membaik ke angka 0,7 persen.

“Data yang dirilis mengenai ekspor Jerman dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi global,” terang Ibrahim, Selasa (10/9).

Kedua, pelaku pasar juga menanti pertemuan antara AS dan China mengenai negosiasi dagang pada Oktober mendatang. Hanya saja, China sudah terlanjur terpapar perang dagang setelah nilai ekspornya turun 1 persen pada bulan Agustus lalu, atau tidak sesuai dengan ekspektasi yaitu bertumbuh 2 persen.

Paling tidak, pelaku pasar masih menaruh harapan pada ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS The Fed usai Departemen Ketenagakerjaan AS mengumumkan penciptaan lapangan kerja Agustus sebesar 130 ribu orang atau lebih rendah dari ekspektasi.

Di dalam sebuah forum di Zurich pada Jumat (6/9) minggu lalu, Jerome Powell selaku Gubernur The Fed juga menyebutkan bahwa The Fed kemungkinan masih akan melonggarkan kebijakan suku bunga acuannya supaya tidak mau kehilangan momentum inflasi.

“Dalam transaksi hari ini, rupiah masih akan menguat ditopang data eksternal dan internal yang masih positif dengan range Rp13.995 hingga Rp14.100 per dolar AS,” terang dia.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190910082708-78-428972/pasar-menunggu-rupiah-mogok-di-rp14035-per-dolar-as

Photo by rawpixel.com from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *