Danai Pembongkaran 100 Anjungan Migas, Pemerintah Putar Otak

Pemerintah sedang memutar akal untuk mendanai pembongkaran 100 anjungan hulu migas. Pembongkaran ini dilakukan sebagai upaya aktivitas pasca-tambang (Abandonement Site and Restoration/ASR) sesuai dengan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 02.P/075/MPE/1992.

Purbaya Yudhi Sadhewa selaku Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengatakan masalah pendanaan muncul karena sistem yang terjadi pada masa lalu.

Menurut ia, kewajiban untuk mencadangkan dana untuk pasca-tambang baru berlaku sesuai dengan kewajiban kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) yang diteken setelah tahun 1994.

Namun, di dalam ketentuan sebelum PSC tahun 1994, skema pembayaran dana pasca-tambang diajukan melalui sistem bundling bersamaan dengan komitmen pasti Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ketika menandatangani PSC.

Dengan kata lain, pemerintah belum dapat mengurai jumlah uang yang semestinya bisa digunakan untuk kegiatan pasca-tambang.

Hanya saja, ia tidak menyebut jumlah anjungan hulu migas yang merupakan buah dari PSC sebelum tahun 1994.

“Tinggal dananya saja karena masih dihitung Kemenkeu dan biaya pemotongan ini cukup mahal. Misalnya, kalau melihat tiga anjungan di blok Attaka yakni Attaka 1, Attaka UA, dan Attaka DB ini totalnya US$22,7 juta,” terang dia.Dalam waktu dekat, sambung dia, pemerintah akan membongkar 10 anjungan hulu migas terlebih dulu dengan rincian tiga anjungan berada di Kalimantan Timur dan tujuh anjungan berada di Laut Jawa.”Jadi pemerintah perlu bayar untuk itu (pembongkaran anjungan migas). Walaupun uangnya sudah disetor lewat bundling, tapi sedang dicarikan cara pembiayaannya oleh Kementerian Keuangan,” ungkap Purbaya, Senin (9/9).

Secara rerata, imbuh dia, seharusnya pembongkaran satu anjungan hulu migas dapat memakan biaya US$7 juta. Sehingga, biaya yang diperlukan untuk pembongkaran diperkirakan menyentuh angka US$700 juta atau setara Rp9,8 triliun.

Namun, pada saat ini tim yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Keuangan serta PT Pertamina (persero) sedang menghitung angka kebutuhan yang lebih pasti.

“Tapi sebagai negara kami wajib memotong titik-titik (pembongkaran) tersebut,” terang dia.

Adapun, 10 anjungan ini dipilih karena dinilai tidak mengganggu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 dan ALKI 2. Sekadar informasi, jalur ALKI 1 terdiri dari Selat Sunda-Selat Karimata-Laut Natuna-Laut Cina Selatan sementara ALKI 2 mencakup Selat Lombok-Selat Makassar-Laut Sulawesi.

“Yang diutamakan yang tidak mengganggu jalur pelayaran prioritas dulu. Sementara ALKI 1 dan ALKI 2 nanti kami bereskan secara bertahap,” imbuhnya.

Dari 10 anjungan tersebut, dua diantaranya telah mengamankan pendanaan. Sementara itu, pemerintah masih mencarikan skema pembiayaan yang pas untuk delapan sisanya. Namun, Yudhi berharap 10 anjungan migas ini dapat dibongkar dalam satu tahun ke depan.

Sementara itu, Fatar Yani Abdurrahman, Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menerangkan prioritas pembongkaran anjungan migas akan disesuaikan dengan kebutuhan jalur pelayaran.

Hanya saja, pemerintah masih melakukan pertimbangan alternatif lain kegiatan pasca-tambang selain pembongkaran.

Terdapat empat alternatif yang masih direncanakan yakni antara lain penghancuran secara total, dijadikan rumpon (rig to reef), digunakan oleh Angkatan Laut sebagai pos jaga, atau objek wisata.

Namun, rekomendasi pembongkaran anjungan migas ini disebutnya ada pada tangan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM. Selanjutnya, persetujuan akhirnya terdapat pada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan.

“Namun, sejauh ini ada beberapa lembaga dan TNI AL yang mempertimbangkan anjungan tersebut untuk keperluan non-migas,” ungkap Fatar kepada CNNIndonesia.com.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190909184133-85-428880/pemerintah-putar-otak-danai-pembongkaran-100-anjungan-migas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *