Penjelasan Menkeu Soal Tuduhan Dampak Perang Dagang Hoaks

Dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (11/6/2019) yang juga diikuti oleh Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan (Menkeu). Bambang H anggota DPR dari fraksi Partai Gerindra mengutarakan ketidaksetujuannya terkait dengan dampak perang dagang terhadap perekonomian Indonesia yang cenderung tertahan tahun ini.

Menurut dia, pandangan Sri Mulyani dan Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengenai dampak perang dagang terhadap ekonomi Indonesia tidak berdasarkan fakta atau hoax.

“Jadi berarti China yang dikorbankan AS masih mempunyai suatu pasar yang bagus untuk Indonesia. Apa yang dikatakan Menkeu tidak benar. Sama dengan pemhohongan masyarakat, hoaks. Dan kami mohon diluruskan,” ungkap Bambang di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Merespon hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menerangkan, kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan China saat ini nyatanya lebih merugikan Indonesia.

Saat melakukan rapat kerja di Badan Anggaran (Banggar) DPR, dia menuturkan sepanjang tahun 2014 hingga kuartal II-2017, pertumbuhan ekspor Indonesia mengalami kontraksi.

Sebab, Indonesia pada waktu itu mengalami tekanan dari kondisi perekonomian global. Hingga kemudian, di penghujung 2017 hingga awal 2018, ekspor Indonesia mengalami perbaikan.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekspor kita mengalami kontraksi kalau tidak salah 2014 2015 2016 sampai 2017 kuartal II, dan mulai positif lagi di 2017 kuartal IV. Jadi memang waktu terjadinya 2014-2016 itu memang kita masuk di dalam suasana kondisi ekonomi global yg sangat menekan,” terang dia.

“Harga komoditas jatuh dan volume ekspor menurun, ini yg menyebabkan kontraksi waktu itu. Kita sudah mulai melihat recovery yaitu mulai akhir 2017 dan berlangsung di 2018 tiba-tiba di akhir 2018 Presiden Trump melakukan eskalasi (perang dagang), ini kemudian yg menyebabkan seluruh revisi proyeksi global,” lanjut Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Dia menuturkan, seharusnya Indonesia sanggup untuk menggunakan perang dagang untuk memerbaiki kondisi perekonomian dalam negeri seperti halnya dengan negara  kawasan Asia Tenggara lain, yaitu Vietnam.

Namun, allih-alih seperti Vietnam yang sebagian ekspornya adalah manufaktur sehingga dapat mencuri kesempatan mengambil alih ekspor China ke AS, mayoritas ekspor Indonesia yang berupa komoditas malah mengalami tekanan lantaran kondisi perekonomian China yang tengah mengalami moderasi.

“Poin kita hari ini adalah perekonomian kita ikut terbawa dengan global economic growth yang melemah dan itu disumbangkan karena dari China sedniri ekonominya juga mengalami tekanan apalagi mengalami moderasi dari pertumbuhan ekonominya. Maka permintaan barang-barang komoditas kita menjadi menurun dan itu yang menjelaskan mengapa ekspor kita mengalami kontraksi,” ungkap dia.

 

Sumber: https://money.kompas.com/read/2019/06/12/062825626/politisi-gerindra-tuduh-dampak-perang-dagang-hoaks-ini-penjelasan-sri-mulyani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *