Nasib Ekonomi Indonesia Jika Jokowi-Ma’ruf Terpilih

Proyeksi Calon presiden Petahana Joko Widodo (Jokowi) terhadap ekonomi RI  menjadi yang terkuat keempat di dunia pada tahun 2045 bisa dibilang tidak berlebihan. Salah satunya, karena bonus demografi, di mana sebanyak 70 persen penduduknya berada pada usia produktif.

Bonus ini mulai dirasakan sejak tahun 2010 lalu dan puncaknya diprediksi terjadi pada tahun 2025 – 2030. Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut bonus demografi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, asalkan dikelola dengan baik.

Lalu, bagaimana pengelolaan yang baik?

Pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan membuat suasana nyaman dalam dunia usaha melalui kebijakan yang berkesinambungan adalah salah satu contoh yang nyata.

Tak ragu-ragu, bahkan Apindo mengisyaratkan suasana nyaman bisa tercipta jika Capres Petahana Jokowi kembali memimpin untuk lima tahun ke depan. Hariyadi Sukamdani selaku Ketua Umum Apindo mengambil kesimpulan tersebut setelah menyimak kisah-kisah para pelaku usaha.

Menurut Hariyadi, mayoritas anggota Apindo dengan skala usaha besar menginginkan Jokowi maju lagi sebagai presiden periode 2019-2024. Sedangkan apabila Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang menang dalam pilpres, maka pelaku usaha harus menyesuaikan diri lagi dengan kebijakan baru.

Padahal, hal tersebut tidak mudah. Tengok lah, saat Jokowi pertama kali memimpin. Bahkan, 4,5 tahun terakhir ini, pelaku usaha mengklaim masih beradaptasi dengan kebijakan pro investasi Jokowi.

“Kalau calon 01 (Jokowi), kami sudah tahu apa saja yang sudah dikerjakan, jadi sudah jelas. Kalau calon 02 (Prabowo) yang akan jadi presiden, tentu kami butuh penyesuaian lagi. Jadi kalau kami simak dari pelaku usaha, mayoritas lebih nyaman kalau 01 menjadi presiden,” ungkapnya, kemarin.

Anton Gunawan, Ekonom Bank Mandiri mengatakan pelaku pasar tidak menyukai perubahan secara tiba-tiba. Karenanya, ia menilai pasar saham dan obligasi masih akan bergerak stabil jika capres petahana menjadi pemenang.

“Karena kebijakan lama akan diteruskan, sehingga kondisi yang saat ini berjalan sesuai dengan fundamentalnya,” terangnya.

Namun, pasar berpotensi bergejolak jika Prabowo yang terpilih. Terlebih lagi kalau seluruh janji kampanyenya diwujudkan. Kondisi ini, ia mengingatkan persis yang terjadi di AS ketika Presiden Donald Trump terpilih. Sontak, pasar saham dan obligasi bereaksi.

Sekadar informasi, dalam kampanyenya, Prabowo berjanji untuk membatasi investasi asing di sejumlah sektor, mengurangi utang RI, mengurangi impor di sektor pangan dan energi termasuk mengkaji ulang proyek-proyek infrastruktur di bawah kepemimpinan Jokowi.

Menurut Wahyu Prasetyawan, Panel Ahli Katadata Insight Center (KIC), investor senang dengan pemimpin negara yang mudah diprediksi. Dengan demikian, investor bisa menakar arah kebijakan yang akan diambil.

“Kalau tingkahnya tidak bisa diprediksi, maka akan terkait juga dengan investasi yang mereka sudah tanam,” kata dia.

Karenanya, ia melanjutkan kemampuan pemimpin dalam mengontrol emosinya juga dianggap penting, di samping visi dan misi. “Kalau emosinya tidak stabil kan bahaya,” lanjut dia tanpa merinci pasangan calon yang dimaksud.

PR Masih Menumpuk

Meskipun iklim usaha menginginkan Jokowi – Ma’ruf Amin, tidak berarti pasangan dengan nomor urut 01 tersebut bisa melenggang tanpa celah. Faisal Basri seorang Ekonom UI katakan pekerjaan rumah (PR) Jokowi jika terpilih kembali ialah memperkokoh sektor kemaritiman nasional.

“Kodrat kita (Indonesia) adalah negara maritim, maka laut prioritas untuk bisa mengejar ketertinggalan. Tol laut hanya sebatas kapal, itu sudah bagus, tapi yang dibutuhkan ini sistem kelautan, kemaritiman, termasuk di dalamnya meningkatkan sektor perikanan terhadap PDB (Produk Domestik Bruto),” ungkap dia.

Menurutnya, sektor kemaritiman masih meninggalkan beberapa PR. Lihatlah, sumbangan ekonomi dari sektor kemaritiman terhadap ekonomi RI hanya dua persen. Padahal, luasan laut RI mencapai dua per tiga wilayah negara.

PR lain, sekitar 85 persen hasil ekspor dan impor di Indonesia diangkut dengan menggunakan kapal asing. Tidak heran, produk asal Indonesia menjadi lebih mahal daripada negara lain. Sebab, ada biaya sewa kapal yang tidak murah.

“Sekarang kok kita (Indonesia) habiskan uang untuk transportasi? Makanya laut harus lebih komprehensif pengelolaannya,” tambahnya.

Hal lain yang perlu dibenahi capres petahana jika terpilih, Anton Gunawan menambahkan, yaitu logistik di dalam negeri. “Sehingga cost of logistic jadi turun. Selain itu, human capital juga perlu diperbaiki, karena kalau tidak produktivitas tidak meningkat cukup baik.”

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190413184951-532-386051/nasib-ekonomi-jika-jokowi-maruf-amin-terpilih-pilpres

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *