Sepanjang Pekan Lalu, Harga Minyak Mentah Menguat

Sepanjang pekan lalu harga minyak mentah dunia menguat. Masih dipicu pelaksanaan kebijakan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Namun, hal tersebut dibatasi sentimen perlambatan ekonomi yang melemahkan permintaan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Senin (11/3), sepanjang pekan lalu harga minyak mentah berjangka Brent menguat sekitar 1 persen. Tercatat, pada perdagangan Jumat (8/3) harga Brent ditutup di level US$65,74 per barel.

Selain itu, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penguatan sebesar 0,5 persen menjadi US$56,07 per barel.

Dari sisi pasokan, harga minyak telah mendapatkan topangan tahun dari kebijakan pemangkasan produksi OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia. Kebijakan pemangkasan produksi hingga 1,2 juta bph itu baru mulai berlaku efektif sejak Januari 2019 dan akan berlaku selama 6 bulan.

Sumber Reuters dari kalangan pelaku industri menyebutkan pada Februari 2019 minyak mentah Arab Saudi turun menjadi 10,136 juta barel per hari (bph).

Selain itu, pasokan juga mengetat karena pengenaan sanksi AS kepada Venezuela dan Iran yang juga merupakan anggota OPEC. Namun, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri dari Kementerian Keuangan AS menyebutkan Gedung Putih memberikan waktu kepada individu maupun entitas untuk menyelesaikan kontrak keuangan atau kesepakatan lain dengan perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela.

Di sisi permintaan, tak lepas dari sentimen pelemahan perekonomian global harga minyak mendapatkan tekanan.

Pada Februari 2019 lalu pertumbuhan lapangan kerja AS hampir tidak bergerak mengingat hanya menciptakan 20 ribu lapangan kerja di tengah kontraksi pada upah di konstruksi dan sejumlah sektor lainnya. Laporan tersebut turut menyeret kinerja pasar saham AS dan harga minyak berjangka pada Jumat (8/3) lalu.

Pasar keuangan juga mendapatkan tekanan menyusul pernyataan Mario Draghi, Gubernur Bank Sentral Eropa pada Kamis (7/3) waktu setempat. Draghi menyebutkan perekonomian Eropa berada di periode pelemahan yang berlanjut.

“Jika kita lihat pasar ekuitas terus tertekan, secara bertahap ini akan menyeret harga energi lebih rendah bersamanya,” ungkap Brian LaRose, Analis Teknikal United-ICAP.

Pelemahan perekonomian AS dan Eropa juga terjadi seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Asia.

Pada Februari lalu ekspor China merosot 21 persen daripada periode yang sama di tahun lalu, penurunan terbesar dalam tiga tahun. Realisasi tersebut juga jauh di bawah prediksi analis yang memprediksikan penurunan sebesar 5,2 persen.

“Kita telah menyaksikan munculnya kembali kekhawatiran terkait pertumbuhan permintaan pekan ini,” ungkap Gene Mc Gillian, Wakil Presiden Riset Pasar Tradition Energy di Stamford, Connecticut, AS.

Hingga saat ini, permintaan minyak masih bertahan, khususnya China yang impor minyak mentahnya masih di atas 10 juta bph. Kendati demikian, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan mengurangi konsumsi bahan bakar dan menekan harga.

Sementara itu, produksi minyak mentah AS melonjak lebih dari 2 juta bph sejak awal tahun 2018 menjadi 12,1 juta bph. Kondisi itu membuat AS menjadi produsen minyak paling besar di dunia.

Bank investasi AS Jefferies menyebutkan pertumbuhan produksi minyak AS utamanya berasal dari melesatnya produksi minyak shale di darat. Melonjaknya produksi minyak shale tidak lepas dari investasi yang ditanamkan oleh Chevron dan Exxon Mobil.

Meskipun begitu, Baker Hughes mencatat perusahaan energi AS minggu lalu memotong jumlah rig yang beroperasi ke level terendah selama 10 bulan terakhir. Pemotongan tersebut terjadi selama tiga minggu berturut-turut.

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS juga turut melaporkan perusahaan manajemen investasi dan para spekulator mengerek kombinasi posisi kontrak berjangka dan opsi di New York dan London sebesar 21.416 kontrak menjadi 155.426 kontrak pada pekan yang berakhir pada 5 Maret 2019.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190311072542-85-376076/harga-minyak-mentah-menguat-terbatas-sepanjang-pekan-lalu

Foto: https://www.pexels.com/photo/dirty-industry-stack-factory-2391/

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *