Ma’ruf-Sandi, Drama Kiai vs Santri

Debat Cawapres yang mempertemukan Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno berlangsung adem ayem. Debat ketiga pilpres 2019 itu baru menyentak publik ketika keduanya memberikan pernyataan penutup.

Ma’ruf dan Sandi yang sepanjang debat terlihat tenang, tiba-tiba saling melemparkan sindiran. Sandi memulai ‘perang sindiran’ dengan aksi pamer kartu tanda penduduk (KTP).

Di ujung pernyataan penutup, Sandi berjanji untuk menghadirkan pendidikan yang baik, lapangan kerja yang luas, dan jaminan kesehatan yang merata.

Sandi langsung memberi komando kepada para pendukungnya untuk mengeluarkan KTP. Ia menegaskan tidak butuh banyak kartu, cukup KTP, untuk menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat.

“Mari kita ambil dompet masing-masing, keluarkan kartu yang sudah dimiliki yaitu kartu tanda penduduk. Ini super canggih, sudah memiliki chip,” ungkap Sandi sembari mengacungkan KTP.

Para pendukung cawapres 02 itu pun turut mengacungkan KTP masing-masing sambil berdiri.

“Dengan big data semua fasilitas layanan baik tenaga kerja, kesehatan, semua hanya membutuhkan KTP ini yang menjadi kartu kami,” tambah dia.

Aksi tak kalah heboh juga datang dari sang Kiai, Ma’ruf Amin. Dalam kalimat penutup ia bersumpah untuk memerangi hoaks.

Ma’ruf sempat menyinggung sejumlah hoaks yang menyudutkan Jokowi, seperti dan pelarangan azan dan legalisasi zina.

“Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan lawan upaya-upaya yang akan melakukan itu semua,” ungkapnya.

Silvanus Alvin seorang pengamat komunikasi politik menilai dua gimmick itu memperlihatkan pesan terselubung yang menjadi sorotan masing-masing kandidat.

“Itu pesan terselubung untuk menyampaikan ke publik kalau bagi kubu 01, mereka kerap diserang hoaks. Sementara, sebaliknya pesan terselubung Sandi mengkritik kartu-kartu petahana,” ungkap Alvin, Minggu (17/3).

Alvin menilai dua aksi tersebut memperlihatkan kandidat bermain aman dan telat panas. Mereka menyimpan keseruan di detik akhir.

Padahal pernyataan penutup dari Ma’ruf dan Sandi sejatinya adalah inti dari pertarungan wacana antara 01 dan 02 selama ini.

“Esensi keseruan debat sebenarnya malah muncul di poin penutup itu dengan gimmick politik tersebut. Ada serangan politik dari kedua pihak,” paparnya.

Dihubungi terpisah, Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, debat yang datar terjadi karena kedua kandidat bermain aman.

Baik Ma’ruf dan Sandi tidak ada yang secara langsung melakukan serangan seperti Jokowi vs Prabowo. Keduanya lebih memilih memakai sindiran-sindiran halus.

“Mereka tidak ada yang menyerang karena mereka berlomba soal kesantunan,” ungkap Pangi, Minggu (17/3).

Drama Kiai vs Santri

Alvin menganggap debat cawapres lebih adem daripada dua debat sebelumnya karena ada gimmick kiai yang diperankan Ma’ruf dan santri yang diperankan Sandi.

Keduanya memainkan bahasa tubuh saling menghormati layaknya guru dan murid ketika proses belajar-mengajar.

“Ketika Ma’ruf bicara, tampak sandi memperhatikan seksama dan mencatat. Berbeda ketika Sandi bicara, Ma’ruf hanya mendengar ibarat guru yang mendengar murid presentasi di depan kelas,” Alvin menerangkan.

Sandi dianggap menang dari segi gimmick politik dalam debat kali ini. Mantan Wagub DKI Jakarta tersebut dinilai berhasil tampil dengan pembawaan yang sangat tenang. Ia bisa menyampaikan gagasan layaknya CEO yang sedang mempresentasikan perusahaannya.

Alvin juga menilai Sandi menang karena berhasil menunjukkan sosok muda yang sopan terhadap ulama. Terlihat dari bahasa tubuh Sandi ketika hendak berbicara.

Ia selalu menundukkan kepala ke arah Ma’ruf seraya meminta izin. Ketika mendebat pun Sandi meminta maaf terlebih dulu kepada Ma’ruf.

“Patut diakui pula, secara gimmick politik Sandiaga menurut saya lebih unggul, dia lebih ekspresif,” ungkapnya.

Sementara Pangi melihat Ma’ruf mampu tampil mengejutkan. Berkat performanya di debat pertama, publik meragukan Ma’ruf bisa tampil lepas.

Namun di debat kali ini, Ma’ruf mampu menyampaikan gagasan secara jelas dan lugas. Meski beberapa kali terbata dan harus mencontek kertas yang ada di genggamannya.

“Beliau tidak punya beban, kalau pas sama Pak Jokowi memang tidak banyak bicara. Tadi beliau bebas bicara apapun,” terang Pangi.

Pemilihan kata Ma’ruf pun begitu mencerminkan keilmuan dan posisinya sebagai ulama. Selain membacakan sejumlah ayat dan hadis, Ma’ruf juga memakai bahasa agamis seperti kata “bersyukur”.

“Lebih sejuk, kritik diungkapkan dengan bijak. Pak Ma’ruf lebih banyak mensyukuri kinerja pemerintah saat ini,” ucap Pangi.

 

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190318021201-32-378195/debat-maruf-sandi-drama-kiai-santri-yang-telat-panas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *