Berebut para Veteran di Medan Pilpres

Di masa-masa kampanye seperti pada saat ini, ruang publik tidak hanya riuh dengan perdebatan masing-masing anggota timses peserta Pilpres 2019. Panggung politik Indonesia juga dibanjiri oleh berita tentang aliran dukungan dari sejumlah kelompok masyarakat kepada paslon perserta pilpres.

Mulai dari kelompok alumni universitas, pengemudi ojek online hingga kelompok ulama. Tidak luput pula dukungan dari purnawirawan TNI dan Polri yang sudah memiliki hak pilih pasca pensiun.

Timses Prabowo, Badan Pemenangan Nasional (BPN) mengklaim 2.500 purnawirawan TNI/Polri mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo pada 31 Januari kemarin. Momen tersebut terjadi di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor.

Atas dukungan yang diberikan, Prabowo mengucapkan terima kasih. Dia juga mengajak para veteran untuk turut berperan membangun bangsa.

“Terimakasih atas kehadiran dan dukungan yang diberikan kepada saya dan saudara Sandiaga Uno. Mari kita berjuang bersama mewujudkan cita-cita pendiri bangsa kita, menciptakan Indonesia yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia,” ucap Prabowo kala itu.

Capres petahana Joko Widodo  juga sudah mendapat dukungan dari kelompok purnawirawan TNI dan Polri. Ketua panitia Iskandar Sitompul seorang Laksamana Madya (purn) mengaku ada 1.000 pensiunan TNI dan Polri yang mendeklarasikan dukungan. Acara deklarasi digelar di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/2).

Sama halnya dengan Prabowo, Jokowi seolah merasa tersanjung mendapat dukungan dari para veteran. Jokowi, atas nama pasangan capres-cawapres dengan nomor urut 01, mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan.

“Ini adalah dukungan yang memberi semangat kepada kami berdua. Untuk bekerja lebih baik lagi,” ucap Jokowi.

Khairul Fahmi, Peneliti militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menyebutkan sebenarnya tidak ada keuntungan yang besar dari sisi politik dari dukungan yang diberikan para veteran. Dia mengiyakan bahwa pensiunan TNI/Polri memiliki hak pilih. Namun, jumlahnya tidak besar.

Menurut Khairul, keuntungan bagi para capres hanyalah sekedar soal persepsi publik.

“Lebih banyak diuntungkan dari sisi persepsi publik saja,” papar Khairul, Minggu (10/2).

Khairul menilai, masih banyak kalangan di masyarakat yang menganggap bahwa pilihan para tentara patut diikuti. Itu pun juga tergantung siapa tokoh purnawirawan yang memberikan dukungan.

Apabila terdapat sosok populer dan diagungkan di masa mudanya, maka capres yang diberikan dukungan akan tersemat aura positif.

Sebaliknya, jika terdapat mantan tentara dengan riwayat kontroversi memberikan dukungan, maka pada capres yang bersangkutan akan mendapatkan persepsi negatif.

“Cenderung negatif bagi pembentukan persepsi publik,” ungkap Khairul.

Dia mencontohkan Muchdi PR, Mayjen TNI purn yang baru saja memberikan dukungan kepada paslon Jokowi-Ma’ruf bersama ribuan purnawirawan lainnya. Menurut Khairul, hal tersebut bisa saja justru menjadi kontraproduktif atau merugikan Jokowi-Ma’ruf.

Namun, dia melanjutkan, dukungan dari para veteran tetap penting untuk Jokowi. Terlepas ada satu atau dua orang yang memiliki riwayat kontroversi. Dia menganggap dukungan mantan prajurit kepada Jokowi berguna untuk mengimbangi persepsi publik.

Dengan kata lain, kubu Prabowo bisa saja memamerkan diri berasal dari kalangan militer yang dikenal memiliki budaya tegas dan disipilin. Tetapi, kubu Jokowi bisa turut melawan persepsi tersebut karena telah mendapat dukungan atau kepercayaan dari para purnawirawan jenderal.

“Dukungan ‘tentara’ sejauh ini masih dianggap membawa pengaruh positif,” ungkap Khairul.

Menyoroti Gen Tentara Indonesia

Kemudian Khairul menyinggung mengenai gelagat para purnawirawan yang seolah tak mau jauh dari lingkaran kekuasaan meski sudah pensiun dari kedinasan. Menurutnya, itu terlihat ketika mereka memberikan aliran dukungan kepada tokoh yang akan menjadi pemimpin negara.

Khairul menyebutkan gelagat tersebut memang ciri khas tentara Indonesia sejak dulu. Dia menyebutnya dengan istilah hasrat praetorian.

“Hasrat praetorian sangat sulit untuk hilang,” ungkap Khairul.

Khairul menerangkan bahwa militer Indonesia lahir ketika emosi terhadap penjajah tengah meluap-luap. Implikasinya, tentara menjadi sulit memposisikan diri sebagai sebagai pejuang atau prajurit profesional.

Kemudian, jati diri tentara menjadi bersifat praetorian. Hal itu masih terjadi hingga detik ini.

“Karena itu, pelibatan mereka dalam even-even politik selalu dimaknainya sebagai sesuatu yang heroik, sebagai kontribusi terhadap keselamatan dan keutuhan bangsa dan negara,” ucap Khairul.

Selanjutnya Khairul beralih ke soal anatomi kelompok purnawirawan yang mendukung dua capres tersebut. Dia mengamini bahwa mereka yang mendukung kedua paslon adalah dua kelompok yang berbeda.

Kendati demikian, Khairul tak yakin kedua kelompok tersebut benar-benar menjangkarkan keberpihakannya secara total kepada pasangan capres-cawapres yang mereka dukung. Khairul menganggap justru ada agenda tersembunyi dari militer untuk tetap mendapat posisi di kekuasaan.

“Saya meragukan ini sebagai bentuk keberpihakan full,” ungkap Khairul.

Anggota TNI/Polri aktif, Khairul menegaskan, memang tidak boleh berpihak dalam kontestasi politik. Namun di sisi yang lain, Khairul menilai TNI/Polri pun tidak mau diasingkan terlalu jauh atau dirugikan oleh pemerintah yang berkuasa selanjutnya.

Untuk mencegah hal itu terjadi, maka para purnawirawan yang bergerak. Tentu karena kini sudah memiliki hak pilih dan bisa ‘berpura’pura’ berpihak ke salah satu paslon.

“Saya memaknai terbelahnya dukungan para purnawirawan itu bukanlah bentuk perpecahan, melainkan bentuk pembelahan. Tentu agar siapapun yang menang, tetap ada yang bisa memastikan bahwa rezim itu tak akan merugikan kepentingan ‘militer’,” ungkap Khairul.

“Para purnawirawanlah instrumen yang paling mungkin digunakan sebagai kepanjangan tangan. Hidden agenda para praetorian terlalu riskan jika hanya ditumpukan pada salah satu paslon,” ucap dia.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190211064642-32-367986/berebut-suara-jenderal-tua-di-medan-pilpres

Photo by Vitor Pinto on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *