Pengakuan Buzzer Politik Menjelang Pilpres 2019 (part 2)

Kekuatan Media Sosial dan Masa Depan Buzzer

Rinaldi Camil, peneliti Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) melihat buzzer memiliki kekuatan dari media sosial untuk menggiring opini publik.

Mereka dapat menggoreng sebuah isu yang diwacanakan klien mereka. Dengan mrnggunakan media sosial, buzzer merebut hati para netizen dengan konten-konten tepat sasaran.

Buzzer menurut kami adalah individu atau akun dengan kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan tentang isu atau topik spesifik tertentu,” ungkap Rinaldi.

Rinaldi menyebutkan media sosial menjadi medan pertempuran untuk membentuk sebuah branding. Lantaran pengguna media sosial juga meningkat setiap tahunnya.

Di tahun 2015 terdapat 72 juta orang, bertambah menjadi 76 juta orang pada 2016 dan 2017 terdapat 106 juta pengguna media sosial. Sejak 2015 ke 2017 terjadi peningkatan sebesar 34 persen.

Penelitian yang dilakukan oleh We Are Social menyebutkan rata-rata orang Indonesia memakan waktu tiga jam 23 menit dalam sehari untuk mengakses media sosial.

Rinaldi menyebutkan angka ini meningkat dari 2017. Di tahun 2017, rata-rata orang Indonesia memakan waktu tiga jam 16 menit untuk mengakses media sosial.

“Media sosial pun tumbuh menjadi pasar yang menarik secara ekonomis maupun politis. Peluang meraup untung maupun menggaet massa ini lantas dimanfaatkan oleh berbagai aktor, mulai dari industri periklanan hingga para pemain politik. Para pelaku ini menyuarakan kepentingannya dengan kicauan berbayar,” ungkap Rinaldi.

Masa Depan Buzzer

Pratama Persadha, Analis Communication and Information System Security Research Center (CISSERec) menerangkan masa depan buzzer masih sangat ‘cerah’. Pasalnya, buzzer tidak selalu negatif.

“Karena ada juga jasa buzzer untuk mengangkat konten atau tokoh secara positif. Dan tidak selalu dengan media sosial, ada aksi buzzing lewat blog atau konten lain seperti video,” paparnya.

Sehingga dengan bertambahnya penggunaan media sosial dan terhubungnya manusia satu sama lain, kebutuhan akan buzzer  semakin tinggi. Tidak hanya di dunia politik, buzzer juga sangat diperlukan di dunia bisnis.

“Sekali lagi, penggunaannya bisa positif dan negatif,” imbuhnya.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210115852-185-352419/pengakuan-rahasia-buzzer-politik-jelang-pilpres-2019/2

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *