Pengakuan Buzzer Politik Menjelang Pilpres 2019 (part 1)

Tidak terbayangkan sebelumnya, masa libur semester pada perkuliahan akan menuntun Rahaja Baraha–bukan nama sebenarnya–menjadi buzzer. Walau akhirnya kini dia telah menanggalkan statusnya tersebut.

Libur semester di awal Januari tahun 2016, menjadi gerbang pembuka untuk mendapatkan pengalaman menjadi buzzer.

“Ada ajakan teman. Saat itu saya masih kuliah. Belum tahu juga pekerjaan buzzer. Saat akhir 2016, ada tawaran ‘main’ di Pilkada (DKI). Akhirnya tidak jadi berhenti dan lanjut. Baru setelah Pilkada benar-benar selesai,” paparnya. “Inti dari buzzer adalah mendorong suatu isu.”

Seperti itulah kisah seorang buzzer ketika menceritakan perjalanannya sebagai buzzer dalam pusaran politik di Indonesia.

Semakin riuh, gemuruh buzzer  terdengar menjelang pesta demokrasi paling besar di Indonesia. Dinilai aksi buzzer dapat turut mendengungkan isu-isu panas untuk membesarkan  branding tokoh politik yang didukung.

Mereka pun mengambil andil yang besar untuk mengarahkan opini publik, salah satunya menggunakan medsos alias media sosial. Dengan ‘power’ nya tersebut, tak ayal barisan buzzer ini menjadi mata pisau para tokoh politik untuk meraih kemenangan.

Rahaja sendiri merupakan seorang eks buzzer yang sempat aktif dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 kemarin. Dia menyebutkan buzzer adalah orang yang mendorong suatu isu dengan berbagai cara.

Rahaja menganggap, apapun caranya, jika orang tersebut mendorong sebuah isu, orang tersebut bisa dikatakan sebagai buzzer.

Buzzer bukan siapa-siapa. Mereka pemakai akun entah pribadi atau palsu untuk menggiring opini publik di media sosial dan berbagai forum untuk mendorong sebuah isu,”.

Rahaja pun menceritakan, pada praktiknya terutama buzzer politik ini sering memakai berbagai akun palsu untuk mendorong isu dengan tujuan bisa ‘panas’ di media sosial.

Rahaja memandang buzzer adalah orang yang mempromosikan atau mendorong isu agar bisa mendapat brand awareness bagi masyarakat.

“Mereka itu yang awalnya membedakan influencer dan buzzer, padahal intinya sama. Inti dari buzzer itu adalah Anda mendorong suatu isu. Itu ‘ngebuzz’ namanya, cara apapun, sesimpel itu,” ucap Rahaja

Berawal dari istilah yang Rahaja sebutkan artinya orang-orang seperti Key Opinion Leader(KOL), influencer hingga wiraniaga atau orang-orang yang bergulat dalam dunia marketing bisa dikatakan sebagai buzzer.

Rahaja bahkan menyebutkan biasanya KOL dan influencer ini mempunyai pasukan akun-akun untuk ikut mendorong isu yang dikumandangkan oleh KOL dan influencer tersebut.

Bungkus ala Buzzer

“Analogi buzzer itu, Anda punya restoran kemudian bikin promo atau Anda ajak teman ke restoran. Ini supaya orang melihat dari luar bahwa restoran Anda itu ramai sehingga mereka mau datang,” ungkap Rahaja

“Nah, untuk itu Anda pakai buzzer, teman Anda itu buzzer. Jadi sederhananya, aksi buzzermurni marketing. Saya bayar orang, supaya orang ini berbicara baik tentang saya atau berbicara buruk tentang lawan saya,” imbuhnya.

Rahaja menilai yang salah dari pihaknya adalah memakai ribuan akun palsu untuk mendongkrak sebuah isu. Rahaja menyebutkan buzzer juga dipakai di dunia marketing untuk menyebarkan suatu produk atau merek tertentu.

“Intinya kami salah karena pakai akun palsu, sisanya itu marketing. Saya punya aturan tidak pernah black campaign. Saya selalu jamin dalam tim saya tidak ada berita bohong. Praktiknya memang banyak yang menggunakan hoaks,” ungkap Rahaja.

Rahaja mengisahkan ketika Pilkada DKI Jakarta, dirinya memiliki peran sebagai pemimpin dari sebuah tim kecil yang terdiri dari sepuluh orang. Tim ini mempunyai 200 akun media sosial. Sepuluh orang itu bertugas untuk mendongrak isu-isu pesanan untuk menyerang atau bertahan di media sosial.

Memang algoritma dari sejumlah media sosial memiliki formula trending topic. Volume jumlah postingan, seberapa banyak jumlah volume tersebut dalam suatu waktu, kemudian postingan tersebut diposting ulang oleh netizen dari bermacam-macam wilayah.

“Butuh seribu cuitan dalam waktu intens dan membuat jadi trending dalam waktu cepat, singkat, dari seluruh Indonesia. Jadi kami dorong bersama-sama. Kami pakai tagging area juga supaya jadi trending topic nasional, tidak hanya di provinsi,” ungkap Rahaja.

Rahaja bahkan menyebutkan dirinya adalah seorang konsultan politik, dan buzzer merupakan sebuah fungsi konsultan politik. Konsultan politik berfungsi untuk mengawasi isu-isu panas, memberikan rekomendasi langkah-langkah yang harus diambil tokoh politik agar kesadaran publik ke tokoh politik itu meningkat.

“Saya bahkan tidak tahu awalnya kerja sebagai buzzer. Jadi saya merasa itu memang saya konsultan politik. Karena saya buat banyak konten seperti video, narasi, dan strategi isu,” ungkap Rahaja.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210115852-185-352419/pengakuan-rahasia-buzzer-politik-jelang-pilpres-2019

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *