Ngabalin soal Sabun 2 Miliar Rupiah

Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden  heran dengan beberapa pihak yang mempersoalkan Jokowi memborong sabun cuci sejumlah total Rp2 miliar.

Ngabalin mengatakan pihak yang mempermasalahkan sumber uang Jokowi untuk membeli sabun cuci itu tidak melihat mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai sosok penguasa.

“Masa sih Rp2 miliar presiden tidak punya uang pribadi, yang benar saja,” ungkap Ngabalin, Senin (21/1).

Ngabalin menyebutkan Jokowi paham mengenai aturan penggunaan uang operasional selaku presiden atau uang pribadi untuk keperluan sehari-hari. Menurut politikus Partai Golkar itu, dirinya saja mempunyai uang Rp2 miliar.

“Menggunakan uang pribadinya masa si enggak punya. Orang Ali Mochtar aja Rp2 miliar bisa (keluarin) kok, masa presiden enggak bisa,” ungkapnya.

Ngabalin menyebutkan tujuan Jokowi merogoh kocek hingga Rp2 miliar untuk membeli 100 ribu botol sabun cuci adalah untuk membantu usaha kecil masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Padawangi binaan Program Keluarga Harapan (KUBE PKH).

“Sekaligus memotivasi yang lain, dengan hasil melihat (belajar) dari internet bisa menghasilkan uang, kemudian dengan modal secukupnya bisa,” paparnya.

Ngabalin menyatakan tak habis pikir Jokowi yang membeli sabun cuci hingga total Rp2 miliar diseret ke ranah politis.

Dia menilai, lawan-lawan politik Jokowi sudah kehabisan bahan kritik sehingga masalah beli sabun menjadi permasalahan.

“Masa yang begitu jadi bahan politik kaya tidak ada lagi bahan lain, mengkritik yang begitu. Digoreng terus, karena enggak ada bahan,” ujarnya.

Jokowi membabat 100 ribu botol sabun milik salah satu kelompok usaha di Garut, Eli Liawati. Harga satu botol sabun cuci berisi satu liter itu Rp20 ribu. Alhasil, total uang yang harus digelontorkan Jokowi mencapai total Rp2 miliar.

Jokowi pun memberi down payment (dp) alias uang muka pembelian sebesar Rp10 juta sebagai tanda jadi. Eli pun menyanggupi pesanan Jokowi dan Ibu Negara Iriana. Eli menjanjikan bakal menyelesaikan produksi pesanan pada akhir Februari 2019.

Namun, aksi Jokowi memborong sabun cuci hingga menggelontorkan uang sebear Rp2 miliar dikritik oleh beberapa pihak, salah satunya Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR.

Fahri menyebutkan Jokowi harus menjelaskan uang yang dipakai untuk memborong 100 ribu botol sabun cuci ketika berkunjung ke Garut, Jawa Barat, Sabtu (19/1).

“Yang penting pertanggungjawaban uangnya saja karena pejabat negara kan uangnya harus dipertanggungjawabkan, pajaknya dari mana, sumber uangnya dari mana,” ungkap Fahri.

Jokowi, kata Fahri, harus menyampaikan ke publik apakah uang tersebut memakai kas negara atau bagian dari alokasi anggaran tim kampanye pemenanganannya sebagai calon presiden dengan nomor urut 01.

“Uang (harus jelas) dari siapa. Kecuali kalau dia bilang itu uang dari tim sukses, ya masukin itu ke anggaran tim sukses,” ungkap Fahri.

Jokowi memiliki dana operasional yang sudah diatur pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.05/2008 tentang Dana Operasional Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam aturan tersebut Pasal 2 ayat (4) tertulis, “Dana Operasional Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat digunakan untuk membiayai keperluan pribadi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan dinas atau jabatan.”

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190122070735-32-362681/ngabalin-soal-sabun-rp2-miliar-masa-presiden-tak-punya-uang

Foto: https://pixabay.com/id/uang-rupiah-gaji-ekonomi-keuangan-3431772/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *