Emiten Batu Bara Optimis Cuan Positif

Meski di tengah perlambatan ekonomi china beberapa emiten batu bara optimistis tetap bekerja ciamik. Pasalnya, porsi batu bara yang diekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut tidak mendominasi penjualan perseroan.

Sebagai contoh, PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan hanya menjual 13 persen batu baranya ke China dari keseluruhan produksi. Jika dihitung berdasarkan produksi sejak Januari-September 2018 yang mencapai 38,98 juta ton, jumlah yang diekspor ke China hanya sebesar 5,06 juta ton.

“Destinasi ekspor kami cukup seimbang dan tidak terkonsentrasi pada satu negara tertentu, maka hal ini (perlambatan ekonomi China) tidak berdampak secara langsung pada permintaan batu bara Adaro,” ungkap Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira, Kamis (24/1).

Febriati menjelaskan beberapa negara tujuan ekspor Adaro Energy, diantaranya Asia Tenggara dengan porsi 38 persen dari keseluruhan produksi, Asia Timur 31 persen, India 13 persen dan sejumlah negara lain sebesar 5 persen. Belum lagi, perusahaan juga fokus pada kebutuhan batu bara di dalam negeri.

“Volume batu bara yang diperuntukkan di dalam negeri jumlahnya telah sesuai dengan aturan Domestic Market Obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah,” tambah Febriati.

Dalam aturan DMO, pemerintah mengharuskan perusahaan batu bara menyiapkan 25 persen batu bara dari total produksinya di dalam negeri. Berdasarkan pada aturan tersebut, artinya Adaro Energy menjual produksi batu baranya sebesar 25 persen di Indonesia.

Meski masih percaya diri dengan kinerjanya, Febriati tak menampik jika melambatnya ekonomi China akan berpengaruh terhadap permintaan baru bara secara global. Apalagi harga komoditas tersebut juga berpotensi turun.

“Kondisi tersebut (ekonomi China) dapat juga berpengaruh terhadap harga batu bara dunia karena permintaan dan penawaran yang tidak seimbang sehingga harga tertekan dan turun,” jelas Febriati.

Sementara itu, Suherman, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyebutkan pada tahun lalu porsi penjualan batu bara ke China hanya 11 persen dari total penjualan sebanyak 24,7 juta ton. Ini artinya, penjualan ke China hanya sebanyak 2,71 juta ton.

“Mudah-mudahan pelemahan ekonomi China ini tidak berdampak pada kinerja keuangan atau operasional Bukit Asam,” kata suherman.

Suherman menyebutkan perusahaan memang tidak mau mengambil risiko dengan memfokuskan penjualan ekspor ke China. Untuk itu, perusahaan juga memasarkan produknya di sejumlah negara antara lain Thailand, Filipina, India, Bangladesh, Hong Kong, dan Vietnam.

“Total ekspor sekitar 40-45 persen dan (penjualan) domestik 55-60 persen,” terang Suherman.

Kendati demikian, Suherman tak menyangkal jika Bukit Asam masih mengharapkan permintaan batu bara dari China. Manajemen kini sedang berdialog dengan salah satu pihak dari China yang akan membeli batu bara dari Bukit Asam.

“Kami sudah kontak dengan salah satu trader asal China, tapi sampai saat ini belum ada realisasi pembeliannya,” terang Suherman.

Kinerja Keuangan Loyo

Achmad Yaki, Analis BCA Sekuritas menganggap perlambatan ekonomi China jelas berpengaruh terhadap permintaan batu bara ke beberapa emiten yang memproduksi komoditas tersebut tahun ini. Bila demikian, kinerja keuangan pada 2019 pun rentan turun ketimbang dengan 2018.

“Pengaruh cukup besar, tapi tidak sampai 50 persen,” kata Achmad.

Jika menilik kinerja Adaro Energy pada kuartal III tahun lalu, laba bersih perusahaan turun 16,04 persen menjadi US$312,7 juta ketimbang periode yang sama pada 2017 sebesar US$372,45 juta.

Hal ini dikarenakan pendapatan perusahaan hanya tumbuh tipis 9,46 persen. Walhasil, pendapatan Adaro Energy kuartal III 2018 hanya mencapai US$2,66 miliar, sedangkan kuartal III 2017 mencapai US$2,43 miliar.

Sementara itu, berbeda dengan Adaro, Bukit Asam lebih beruntung. Laba bersihnya naik 49,61 persen dari Rp2,62 triliun menjadi Rp3,92 triliun. Realisasi itu seiring dengan peningkatan pendapatannya yang sebesar 20,7 persen menjadi Rp16,03 triliun dari Rp13,28 triliun.

Achmad mengatakan potensi pengaruh ke kinerja keuangan tidak sampai 50 persen karena Adaro dan Bukit Asam juga masih menggantungkan penjualannya di domestik.

“Emiten batu bara juga sudah mengantisipasi dengan memasok Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik swasta,” ungkap Achmad.

Di sisi lain, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, Analis Binaartha Sekuritas menyarankan emiten batu bara melebarkan sayap ke negara lain untuk memasarkan produk batu baranya. Dengan kata lain, jangan sampai emiten batu bara hanya fokus pada satu negara saja untuk penjualan ekspornya.

“Selama perusahaan bisa menawarkan produk ke pihak negara lain sebagai substitusi permintaan dari China maka tidak akan pengaruh ke kinerja keuangan,” ungkap Nafan.

Jika China benar-benar mengurangi permintaan batu baranya, Nafan menyebutkan perusahaan harus mencari target penjualan baru untuk menutupi bagian yang dibeli oleh China sebelumnya.

Ia menerangkan pemerintah juga harus turun tangan jika memang terjadi penurunan permintaan dari China.

“Tugas pemerintah perkuat diplomasi ekonomi, buka akses pasar ke negara lain. Jadi ini memang butuh pemerintah juga,” terang Nafan.

Sebagai informasi, pada 2018 lalu ekonomi China hanya tumbuh 6,6 persen. Angka itu merupakan terendah sejak 1990 silam atau dalam 28 tahun terakhir.

Dilansir dari Reuters, penyebab perlambatan ekonomi China adalah sektor investasinya yang lesu dan tingkat kepercayaan konsumen melemah dampak dari perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Fakta ini menjadi perhatian dunia pasalnya China merupakan negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia.

Kendati demikian, Darmin Nasution, Menteri Koodinator Bidang Perekonomian menyebutkan kondisi ekonomi di China saat ini tak memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi Indonesia. Sebab, peranan selisih ekspor dan impor terhadap perekonomian saat ini masih kecil.

 

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190125211615-92-363979/emiten-batu-bara-pede-cuan-positif-meski-impor-china-loyo

Foto: https://www.pexels.com/photo/black-close-up-coal-dark-46801/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *