‘Aroma’ Nepotisme Jokowi Perihal Pelantikan Andika dan Maruli

Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, dua menantu dari orang dekat Presiden Joko Widod dilantik menempati dua posisi strategis di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Andika Perkasa, seorang Letnan Jenderal menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal Mulyono. Andika yang merupakan menantu dari Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono seorang mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Paling anyar, ada Brigadir Jenderal Maruli Simanjuntak yang resmi diangkat menjadi Komandan Pasukan Pengaman Presiden  (Danpaspampres). Yang notabene dia adalah menantu dari Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.

Khairul Fahmi, Direktur Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) melihat pengangkatan dua Jenderal tersebut tidak terlepas dari unsur nepotisme. Hal itu karena keduanya dekat dengan pusaran kekuasaan.

“Kalau soal nepotisme sedikit banyak masuk dalam pertimbangan itu, bisa jadi poin plus oh itu orang kita kan gitu tapi kalau itu menjadi alasan utama saya kira itu yang keliru,” terang Fahmi, Senin (3/12).

Ia juga menganggap pengangkatan keduanya bisa berpotensi memecah soliditas di tubuh TNI karena kompetisi internal seakan hilang. Andika dan Maruli terlihat seperti sudah disiapkan sejak lama untuk menempati dua jabatan tersebut.

“Ada kompetisi yang hilang dalam proses ini terkesan sejak awal mereka-mereka ini memang sudah disiapkan bahkan mengabaikan, cenderung abai terhadap kelayakan prestasi segala macam,” terang dia.

Dengan demikian, lanjut Fahmi, perwira yang tidak dekat dengan kekuasaan berpotensi kehilangan semangat karena putus asa. Jika hal itu terjadi tentunya akan merugikan bahkan bisa membahayakan organisasi TNI dan negara.

Meskipun begitu, isu perpecahan di TNI karena pengangkatan keduanya bisa diredam dengan berbagai cara. Kendati bisa diredam, Jokowi dan jajarannya harus lebih berhati-hati lagi agar tidak menggoyang keutuhan TNI sebagai organisasi.

“Kalau bicara potensi perpecahan saya kira ada tinggal nanti bagaimana itu dikonsolidasikan lagi tapi tentu saja luka tetap akan berbekas. Kalau bisa disembuhkan tapi saya kira akan tetap berbekas saya kira itu filosofi penting untuk dijaga artinya dalam hal ini jangan sampai terulang lah ya pola pengangkatan yang saya kira kurang rapih,” terangnya.

Jokowi Terkesan Tersandera

Lebih lanjut, Fahmi menyebutkan pengangkatan Andika dan Maruli memberi kesan Jokowi tersandera lantaran terlalu menaruh kepercayaan terhadap orang-orang terdekatnya seperti Luhut dan Hendropriyono.

“Kesan begitu ada ya karena kalau saya melihat bahwa menumpukan kepercayaan dan kekuatan pada satu dua orang atau segelintir orang itu lebih banyak bahayanya ya mudaratnya daripada manfaatnya bagi Jokowi,” ucap dia.

Jokowi terkesan tidak menciptakan kompetisi yang sehat di lingkungan TNI dengan pengangkatan Maruli dan Andika. Dia menilai, jika Presiden Jokowi mampu menciptakan kompetisi yang sehat di lingkungan TNI akan berdampak positif lantaran dia bisa memperkuat jaringan di sana.

“Karena mestinya kalau ada kompetisi sepanjang bisa mengelolanya lebih baik itu justru akan lebih menguntungkan. Karena dengan begitu dia bisa memperluas jaringannya kemudian memperluas pengaruhnya di lingkungan TNI,” kata dia.

“Dengan kesan ada anak emas seperti ini kesannya jadi kompetisi internal hilang, kompetisi tidak terjadi, dan ada penumpuan kepercayaan terhadap segelintir orang. Ini yang berbahaya bisa merugikan,” jelasnya.

Sedangkan Muradi seorang pengamat militer menganggap pengangkatan Andika dan Maruli sarat dengan unsur politis. Hanya saja, dia melihat tujuan keduanya diangkat bukan untuk memenangkan petahana di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Keduanya diangkat dengan mempertimbangkan loyalitasnya terhadap kepala negara. Kata dia sosok Andika dan Maruli akan lebih mudah untuk dikendalikan oleh Jokowi dalam hal menjalankan fungsinya sebagai TNI.

“Memang kalau dikatakan politis ya politis karena riskan mengangkat orang yang tidak loyal tidak bisa lurus ke pemerintah, negara, di tahun politik. Apalagi menyangkut soal kenyamanan dari user dalam hal ini kepala negara, presiden,” terangnya.

Jokowi Menyebut Jenderal Andika Paket Komplet 

Presiden Joko Widodo mengaku menunjuk Andika Perkasa menjadi KSAD sudah melalui sejumlah perhitungan. “Kami melihat rekam jejak Pak Andika pernah di Kopassus, Pangdam, Kostrad, penerangan (Kadispenad), pernah Komandan Paspampres. Semuanya komplet,” ucap Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/11).

Ia mengatakan, pada mulanya empat nama diusulkan hingga dibawa ke meja kerjanya. Nama-nama tersebut masukan dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Akan tetapi, Jokowi tidak bersedia menyebutkan tiga nama selain Andika.

Hasto Kristiyanto, Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin meyakini pengangkatan Andika murni dinilai dari sisi profesionalismenya sebagai prajurit.

“Dalam orang Jawa saja, pengangkatan Andika sudah dipikirkan bibit, bebet dan bobotnya [oleh presiden],” ucap Hasto, Jumat (23/11).

Sementara Andika sendiri tidak bersedia berkomentar banyak terkait dugaan saratnya kepentingan politik dalam pengangkatan dirinya sebagai KSAD. Ia menyebut pertimbangan itu ada pada kewenangan Presiden Jokowi.

“Ya orang kalau mau ngomong apa saja wis monggo. Saya enggak bisa berkomentar dan tidak perlu,” ucap  Andika di Istana Negara, Kamis lalu.

Namun, dalam penyelenggaraan Pilpres 2019 Andika menjamin jajaran TNI Angkatan Darat akan netral. Hal itu telah diinstruksikan Presiden Joko Widodo kepada seluruh TNI sebelum Andika dilantik.

“Itu yang harus saya lakukan dan saya yakin prajurit AD memahami kewajiban itu,” ucap Andika di Istana Negara, Kamis (21/11).

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181203180009-32-350826/bau-nepotisme-jokowi-di-balik-pelantikan-andika-dan-maruli

Foto: https://www.pexels.com/photo/sea-people-service-uniform-40820/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *