Mengakhiri Pekan dengan Rupiah Menguat ke Rp 14.955 Per Dollar AS

Diberondong sejumlah sentimen positif baik dari domestik maupun luar, rupiah menguat kembali ke bawah level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (2/11/2018).

Di pasar spot, mata uang rupiah menguat tajam sebanyak 1,14 persen ke level Rp 14.955 per dollar AS. Tidak hanya itu, rupiah juga menguat 1,72 persen dalam satu minggu.

Tidak begitu berbeda dengan pasar spot, rupiah juga menguat 0,70 persen jadi Rp 15.089 per dollar AS dalam data kurs tengah versi Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor).

Dalam seminggu, rupiah juga menguat 0,78 persen. Satria Sambijantoro, Kepala Ekonom Bahana Sekuritas menyebutkan, penguatan rupiah lebih diakibatkan oleh faktor eksternal. Harga minyak sedang menurun drastis.

“Perusahaan-perusahaan minyak di luar mulai menaikkan produksinya sehingga supply berlebihan sehingga harga minyak turun,” ucap Satria.

Turunnya harga minyak menyebabkan mata uang negara-negara pengimpor menguat seperti di Indonesia dan India.

Harga minyak yang belum berubah membuat pelaku pasar menganggap hal ini bisa berakibat pada terpangkasnya defisit neraca berjalan. Faktor lain, Presiden AS Donald Trump melakukan dialog terkait perjanjian perdagangan dengan China.

“Ini memberikan pengaruh positif yang besar bagi mata uang Asia yang selama ini terombang-ambing ketidakpastian akibat trade war,” kata Satria.

Dilihat dari twit dari akun Twitternya, Trump menyebutkan pembicaraan dengan Xi Jinping , Presiden China berjalan dengan baik jelang rencana pertemuan kedua pemimpin di acara G20 di Argentina akhir bulan ini.

Di lain sisi, penguatan drastis dialami oleh mata uang yuan juga terhadap dollar. Penguatan mata uang juga terjadi di Asia Pasifik, India oleh karena adanya optimisme akan berakhirnya trade war.

Namun, Satria tidak menampik rupiah cukup tinggi potensinya untuk kembali ke level Rp 15.000. “Technical correction yang drastis setelah ini akan banyak aksi beli dollar yang bisa menekan rupiah ke depan. Banyak investor yang akan menggunakan kesempatan ini di dollar di harga yang cukup kompetitif,” terang Satria.

Minggu depan ada data pergerakan defisit transaksi berjalan yang diprediksi di sekitar 3,3 persen dari produk domestik bruto pada kuartal ketiga.

Ini dapat menjadi sentimen domestik penekan bagi rupiah. Satria memproyeksikan rupiah di perdagangan Senin (5/11) di level Rp 15.040-Rp 15.090 per dollar AS.

Sumber: https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/02/191434226/akhiri-pekan-rupiah-menguat-ke-rp-14955-per-dollar-as.

Photo by bady qb on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *