Turki Naikkan Suku Bunga Jadi 24 Persen untuk Mencegah Krisis Lira

Salah satu upaya Bank sentral Turki (CBRT) untuk mengendalikan inflasi yang meroket dan mencegah krisis mata uang adalah dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 24 persen.

CBRT tidak mengindahkan keinginan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuh menahan suku bunga. Bank sentral pun mengambil langkah untuk meningkatkan suku bunga acuan jangka pendek  dari 17,5 persen setelah berminggu-minggu dilanda tekanan dari investor internasional.

Sebelumnya, Argentina telah menyepakati pinjaman bulan lalu dengan IMF dan kini pasar keuangan pun semakin khawatir bahwa Turki berisiko masuk ke daftar negara yang mencari dana dari Dana Moneter Internasional ( IMF).

Tak lama setelah kenaikan suku bunga lira Turki mulai pulih menguat sebesar 3 persen menjadi 6,16 lira per dollar AS. Mata uang Turki ini telah anjlok dalam beberapa bulan terakhir dan bahkan setelah kenaikan suku bunga tersebut, nilai tukar lira masih terpuruk hampir 39 persen secara tahunan.

Menyusul terpilihnya kembali Erdogan Investor telah memusatkan perhatian mereka pada Ankara. Erdogan menunjuk menantu laki-lakinya sebagai Menteri Keuangan dan dalam langkah terpisah berupaya untuk mengontrol dana kekayaan negara yang berdaulat.

Sebagai informasi, krisis yang berkembang pesat adalah dampak dari penahanan seorang pendeta AS atas tuduhan spionase dan teror, yang membuat Presiden Donald Trump menggandakan tarif impor pada aluminium dan baja Turki.

Kenaikan suku bunga bank sentral, yang membuat investor terkejut, dianggap sebagai solusi dikarenakan Erdogan membuat kebijakan-kebijakan yang dianggap akan menuju ke kebangkrutan. Erdogan telah lama menekan bank untuk tetap mempertahankan suku bunga rendah demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pada kuartal kedua pertumbuhan melambat ke tingkat tahunan 5,2 persen, dari 7,4 persen pada kuartal pertama tahun ini. Sebelum tingkat suku bunga diumumkan, Erdogan mengungkapkan bank sentral itu independen dan mengambil kebijakan sendiri.

Namun, ia mengulangi keyakinannya bahwa suku bunga harus dipotong, karena dirinya melihat tingginya suku bunga sebagai instrumen untuk eksploitasi.

“Kepekaan saya tentang suku bunga adalah sama, tidak ada yang berubah,” ucapnya. “Saya mengatakan mari kita memotong suku bunga tinggi ini.” Kritik terhadap bank sentral, mengatakan mereka telah salah memperhitungkan target inflasi dan lagi-lagi menggambarkan krisis mata uang sebagai konspirasi asing.

Pemerintah Erdogan mengeluarkan keputusan pada hari Kamis untuk melarang penggunaan mata uang asing dalam penjualan dan penyewaan properti dan penyewaan kendaraan dalam upaya untuk menopang lira Turki,.

Bank sentral memandang bahwa ekonomi domestik melemah sedangkan inflasi meningkat. Naiknya suku bunga mampu menekan pertumbuhan lebih lanjut, tetapi para ahli independen menyatakan diperlukan upaya untuk menahan inflasi dikisaran 18 persen dan mendukung mata uang.

“Bank sentral akan terus menggunakan semua instrumen yang tersedia dalam mengejar tujuan stabilitas harga,” ungkap komite kebijakan moneter bank sentral.

“Sikap yang ketat dalam kebijakan moneter akan dipertahankan secara meyakinkan sampai prospek inflasi menunjukkan peningkatan yang signifikan,” ungkap mereka.

 

Sumber:  https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/14/084500926/cegah-krisis-nilai-tukar-turki-naikkan-suku-bunga-jadi-24-persen.
Photo by Faruk Melik ÇEVİK on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *