Oposisi Jangan Cuma Bisa Nyalahin Soal Rupiah, Solusi Ngapa Solusi

Belakangan gejolak rupiah menjadi perhatian banyak orang, baik dari kalangan elit hingga masyarakat bawah, dari ahli ekonomi sampai ekonom ahli-ahlian dan sudah tentu menjadi makanan empuk dari kaum oposisi.

Oposisi seakan-akan gak ada habisnya menggoreng  isu-isu mengenai gejolak rupiah,  gorengane turah-turah kali yak.

Menyikapi hal ini, Bhima Yudhistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyayangkan sikap oposisi yang menurutnya kurang bijak, yang selalu menyalahkan pemerintah terkait isu pelemahan rupiah.

Akan lebih baik jika teman-teman dari oposisi tidak hanya menari-nari memanaskan lantai dansa, tetapi juga memberi solusi yang jitu, yang konstruktif, yang masuk akal pak Eko.

“Oposisi jangan menari di atas masalah rupiah. Carilah solusi apa?,” ucap Bhima, sabtu (8/9/2018).

Bhima mengucapkan, rupiah tidak bisa menjadi kuat begitu saja dengan adanya badai kritik sana sini. Pemerintah lebih membutuhkan solusi yang konstruktif ketimbang kritik. Sebab, nantinya situasi kondisi bisa saja berbalik jika oposisi memenangkan Pemilu 2019.

“Kalau oposisi terus mengibaskan bara api, apa enak kalau oposisi menang 2019 nanti akan ikut menderita rupiah Rp 15.000?” ungkap Bhima.

“KIta seharusnya calm down,” tambah dia.

Berbeda dengan 1998

Bhima menilai, terlalu jauh jika membandingkan kondisi perekonomian Indonesia saat 1998 dengan situasi saat ini. Di tahun 1998 rupiah berada di angka Rp 14.800 dan terjadi krismon alias krisis moneter.

Saat ini, ia menilai, kondisinya berbeda karena tekanan rupiah tidak drastis sebagaimana 1998. Dimana harga-harga barang kebutuhan sehari-hari naik drastis

“Kalau dibanding 1998 tidak apple to apple. Sekarang lebih cari solusi saja,” ucap Bhima.

Bhima juga mengkritisi sikap dari pejabat atau menteri yang sepertinya tak paham ekonomi, tapi ikut berkomentar soal pelemahan rupiah.

Menurutnya, cukup menteri perekonomian dan Bank Indonesia yang paham soal kondisi ekonomi yang wajib menjelaskan. Pernyataan menteri yang tidak tepat akan membuat situasi menjadi semakin panas dan berakibat buruk ke pasar.

“Yang tidak paham ekonomi, disusupi kepentingan politik tidak usah terlalu berisik untuk mempengaruhi masyarakat di media sosial,” ucap Bhima.

Walaupun rupiah tembus Rp 15.000 per dolar AS, harga kebutuhan pokok masih stabil. Efek ke masyarakat bawah belum begitu terasa.

Namun, provokasi dan gejolak di media sosial terkait isu pelemahan rupiah justru membuat pengusaha dan investor mengambil langkah mundur karena menilai kondisi pasar tidak aman.

“Pengkhianatan ekonomi seperti itu yang harus dihindari,” ucap Bhima.

Foto: https://www.pexels.com/photo/abstract-blackboard-bulb-chalk-355948/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *