Belajar Infrastruktur, Hutang dan Perang Dagang Dari Turki

Dilangsir dari Tempo, pembangunan Turki dalam 15 tahun terakhir sangat megah. Jembatan yang kokoh, masjid megah hingga Erdogan merencanakan pembangunan bandara terbesar di dunia menjadi kebanggaan dari kesuksesan Erdogan memimpin Turki.

Menurut catatan dari Detik, Erdogan telah membangun banyak bandara dan jalan raya dari tahun 2002 sampai tahun 2011. Dari 26 bandara menjadi 50 bandara.  Salah satunya bandara terbaru di Istanbul, yang disebut Anadolu Agency, akan menjadi salah satu dari tiga bandara terbesar di dunia.

Hal ini masih ditambah dengan rencana pembangunan kanal raksasa yang dinamai Kanal Istanbul. Proyek gila ini dikampanyekan sejak menjelang pilpres Turki di 24 Juni 2018 yang akhirnya dimenangkannya. Kanal calon pesaing Terusan Suez dan Panama ini dinilai akan memudahkan lalu lintas Selat Bosphorus sebagai jalur utama pelayaran global yang menghubungkan laut utara dan selatan.

Dari data di TradingEconomics.com memuat bahwa hutang luar negeri Turki dari tahun ke tahun terus meningkat hingga mencapai 466,6 Milyar Dollar. Setara 6766 Trilyun Rupiah dengan kurs 14.600/dollar.  Meski hutangnya naik terus, tapi Debt to GDP Rasionya terus menurun sejak tahun 2002 menjadi 28,3% per Desember 2017. Titik terendahnya di tahun 2015 yakni 27,6%. Hutang pemerintah Turki sendiri tercatat 969,8 Milyar Lira, meningkat berkisar 300% dalam kurun waktu 10 tahun.

Dengan pembangunan infrastruktur dan turunnya Debt to GDP Ratio, kenapa Lira turun drastis dalam waktu yang singkat?  Bahkan Lira sebenarnya sudah ambruk 70% sejak awal tahun, karena tercatat pada 1 Januari 2018, nilainya di angka 3,78 Lira per USD. Saat ini berkisar di 6,42 Lira per USD.

Menurut Tim Lee, ekonom dari piEconomics menyatakan bahwa penyebab awal krisis ekonomi Turki karena ketergantungan dari investor asing. Dan hal ini dimulai sejak tahun 2011 dimana saat itu banyak bank di Turki meminjam dalam bentuk dollar untuk dipinjamkan ke perusahaan lokal, sehingga ekonomi Turki sangat bergantung dari pembiayaan luar negeri.

Erdogan sendiri menyalahkan Amerika Serikat yang sedang melancarkan perang dagang terhadap Turki. Konon penyebabnya adalah penangkapan seorang pastor AS yang dituduh melakukan mata-mata dan aktivitas teror terkait kudeta gagal di Turki  2 tahun lalu, meski sang Pastor ini mengaku tidak bersalah terhadap tuduhan-tuduhan itu.

Kemudian AS mengenakan sanksi ekonomi dengan menaikkan tarif impor baja dan alumunium dan mengancam akan melakukan lebih banyak sanksi.  AS adalah negara tujuan ekspor yang terbesar untuk produk baja dari Turki. Nilainya mencapai 11% dari total ekspor Turki.  Di satu sisi, AS adalah sekutu Turki di NATO.

Dengan adanya perang dagang ini memperkuat ekonomi AS dan membuat Dollar di luar negeri masuk kembali ke AS. Akibatnya nilai mata uang USD menjadi seksi dan banyak disimpan. Hal ini membuat mata uang non USD mengalami penurunan. Turki terparah karena terimbas perang dagang tersebut.

Dari Turki, kita belajar, kesuksesan membangun infrastruktur 15 tahun sehingga memperkuat perekonomian Turki menjadi “Macan Baru” kala itu, akan remuk dalam sekejap karena “satu klik” saja yakni perang dagang yang membuat capital flight dan menjatuhkan Lira  sehingga beban semakin berat akibat hutang luar negeri yang tinggi.

Keenan
Redaksi SuaraDemokrasi.com

Daftar Pustaka Online :
https://tradingeconomics.com/turkey/indicators
https://dunia.tempo.co/read/1116299/erdogan-sebut-amerika-lancarkan-perang-dagang/
https://bisnis.tempo.co/read/1116315/begini-awal-mula-terjadinya-krisis-keuangan-turki/
https://dunia.tempo.co/read/1100078/simalakama-kanal-istanbul-proyek-ambisi-erdogan
https://news.detik.com/internasional/d-4080016/pencapaian-erdogan-selama-15-tahun-terakhir-berkuasa-di-turki?_ga=2.58572074.1410683652.1529809197-525773488.1527148484

Sumber foto : Photo by Faruk Melik ÇEVİK on Unsplash

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *