Ricuhnya Pembebasan Lahan Bandara New Yogyakarta International Airport

Pembebasan lahan bandara Ney Yogyakarta International Airport

SuaraDemokrasi.com-Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) tidak lepas dari polemik yang menyertainya. Kamis (19/7) kemarin kembali terjadi kericuhan yang mewarnai pembersihan lahan yang digunakan untuk pembangunan bandara Kulon Progo di Kecamatan Temon, DIY.

Kemarin berlangsung penggusuran yang sasarannya rumah-rumah yang ditinggal maupun yang masih dihuni. Beberapa warga yang masih tinggal di lokasi itu menolak dibangunnya bandara di wilayahnya.

Para warga melawan dengan berbagai macam cara. Ada yang melakukan perlawanan ketika dipaksa keluar rumah. Ada juga yang berusaha untuk mempertahankan barang-barang milliknya.

Para sebagian warga ini juga melakukan hujatan-hujatan yang nyaris saja terjadi bentrokan fisik.

Iki omahku. Aku ora ridha. Ora ikhlas pitung turunan. Koe-koe wis ngrusak negoromu dewe. (Ini rumah saya. Saya tidak ikhlas hingga tujuh turunan. Kalian sudah merusak negara kamu sendiri),” demikian hujat Ponerah ketika dipaksa untuk keluar dari rumahnya, kemarin pagi.

PT. Angkasa Pura (Persero) dan PP melakukan pembersihan lahan ini sejak pukul 09.00 hingga sore. Mereka banyak menggerakkan alat berat, terutama ekskavator.

Proses pembersihan lahan ini juga mendapatkan pengawalan ketat dari ratusan aparat gabungan TNI dan Polri serta Satuan Polisi Pamong Praja.

Selain itu, mereka juga menyertakan para relawan yang tugasnya membantu untuk memindahkan barang-barang milik warga yang tergusur ke rumah-rumah sewa di sekitaran NYIA.

Pembersihan lahan ini menyasar rumah semua warga yang masih berdiri di Izin Penetapan Lokasi NYIA. Para warga bersikeras untuk menolak pembangunan bandara tersebut.

Sementara itu Angkasa Pura I ketika mengawali proses pembersihan lahan ini telah membacakan putusan pengadilan atas pembebasan lahan warga untuk pembangunan NYIA. Mereka meminta para warga untuk meninggalkan rumah itu serta menerima tawaran pemerintah untuk tinggal di rumah yang telah disediakan.

Setelah dibacakan putusan pengadilan oleh Angkasa Pura I, mereka mendobrak rumah, mengangkut isinya, dan memasukkannya ke truk, dan tidak lupa untuk memaksa warga yang tetap bertahan supaya keluar dari rumah. Bahkan para petugas juga membopong para warga yang menolak rumahnya digusur.

Para warga terus melawan, demikian pula Ponerah dan suaminya yang nyaris terlibat bentrok ketika mengancam dengan menggunakan cairan beraroma bensin.

Namun segala perlawanan itu tidak berlangsung lama. Ketika dilakukan pengosongan, rumah pun langsung diambrukkan dengan ekskavator. Ponerah dan suaminya hanya pasrah menyaksikan penggusuran itu.

“Pejuang tidak meneteskan air mata,” kata Ponerah.

Tidak hanya Ponerah, warga lainnya pun juga melakukan hal yang serupa. Rumah milik Wagirah dirobohkan menjelang tengah hari. Dia bersama anak dan suaminya sempat menolak ketika rumahnya akan dirobohkan.

Bahkan Wagirah tidak berhenti untuk melawan dengan melempar semua orang di sekitarnya dengan menggunakan pasir.

Aku ora ridho omahku diambrukno (Saya tidak ikhlas rumah saya dirobohkan),” kata Wagirah.

Setidaknya ada 700 orang petugas gabungan terlibat dalam proses penggusuran tersebut.

Kapolres Kulon Progo, AKBP Anggara Nasution menyatakan, bahwa aparat disiagakan untuk 3 hari pelaksanaan pengosongan lahan tersebut.

“Seandainya nanti pengosongan selesai satu hari ya kita tinggal melakukan maintenance dan patroli,” ungkap Anggara.

Dirinya juga memastikan bahwa aparat akan bersikap persuasif ketika dilakukan pengosongan lahan.

Selanjutnya juru bicara proyek pembangunan NYIA, Agus Pandhu Purnama mengatakan bahwa pembangunan bandara NYIA ini segera memasuki tahap konstruksi. Dirinya mengatakan bahwa tahap itu akan berlangsung minggu depan.

Pengosongan lahan saat ini terus membuat pihaknya fokus pada pembangunan konstruksi tersebut.

“Dijamin konstruksi sesuai dengan rencana,” kata Pandhu.

Angkasa Pura I memastikan ada 33 rumah yang masih bertahan di lahan pembangunan NYIA. Warga bersikeras untuk tetap bertahan.

Manajer Proyek Pembangunan NYIA, R. Sujiastono mengatakan, ada 17 dari 33 rumah yang bertahan telah dirobohkan hari ini.

“Kalau bisa hari ini atau besok sudah selesai,” katanya.

Dia juga memastikan, pengosongan lahan sudah melalui banyak tahapan bahkan sejak awal 2018.

Angkasa Pura I beserta Pemerintah Daerah telah memberikan penawaran terbaik bagi warga yang menolak penggusuran. Mulai dari menerima keputusan pengadilan, mengambil penggantian yang telah dititipkan melalui pengadilan, serta menerima relokasi ke rumah-rumah sewa.

Semuanya menurutnya merupakan penghargaan kemanusiaan kepada warga yang masih memaksa untuk bertahan di lahan NYIA.
(sumber berita : https://regional.kompas.com/read/2018/07/19/20344981/rumahnya-digusur-untuk-bandara-ponerah-bersumpah-tidak-ikhlas-7-turunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *