Kembalinya Novel Baswedan ke KPK

Novel Baswedan bersama jajaran KPK

SuaraDemokrasi.com – Novel Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi terhitung mulai hari ini Jumat (27/7) kembali lagi beraktivitas di kantor KPK. Kembalinya Novel ke KPK, setelah sebelumnya menjalani serangkaian perawatan di dalam dan luar negeri akibat kerusakan mata yang dideritanya karena siraman air keras yang dilakukan oleh 2 orang pengendara sepeda motor pada 11 April 2017.

Saat itu, Novel tiba di gedung KPK sekitar pukul 09.00 yang disambut oleh Ketua KPK Agus Rahardjo, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Direktur Gratifikasi KPK Giru Supradiono, mantan pemimpin KPK Abraham Samad dan Bambang Widjoyanto. Nampak pula dalam penyambutannya itu, Ketum PP Pemuda Muhamadiyah Dhanil Anzar Simanjuntak, serta para aktivitis antikorupsi dan juga 200-an pegawai KPK.

Novel Baswedan mengucapkan terima kasih atas dukungan dari musibah yang dideritanya terkait penyerangan yang dialaminya. Dirinya juga bersyukur kini sudah bisa melihat kembali. Diceritakan pula oleh Novel bahwa dia pernah mengalami suatu kondisi di mana tidak mampu melihat. Meski demikian, dirinya masih mengalami kendala ketika melihat sesuatu. Demikian seperti yang disampaikan Novel di Gedung KPK Jakarta, (27/7) dengan mengenakan kemeja batik coklat serta kacamata di depan lobby gedung merah putih.

Saat menjalani perawatan di Singapura, Novel telah kembali ke Indonesia sejak 22 Februari 2018. Pengobatan yang dilakukan kurang lebih selama 10 bulan. Pengobatan di Singapura itu dilakukan karena kedua matanya yang rusak akibat siraman air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017. Penyerangan itu dilakukan ketika pulang dari shalat subuh di Masjid Al-Ihsan yang dekat dengan rumahnya.

Dari Februari hingga saat ini, Novel Baswedan memang belum dinyatakan pulih untuk bekerja. Menurut hasil diagnosa dokter yang menanganinya, mata kiri Novel mengalami kerusakan yang lebih parah dibanding mata sebelah kanannya.

Novel menegaskan kembalinya dia di KPK sebagai perwujudan rasa syukur dan akan melakukan semaksimal mungkin yang bisa dikerjakan.

Pasca penyerangan terhadap dirinya, Novel mengaku tidak memiliki dendam maupun perasaan sedih.

Novel menjelaskan bahwa apa yang telah dialaminya, dirinya sudah ikhlas, memaafkan pelakukan, dan tidak punya dendam. Hal itu diakuinya akan dibuktikan tidak hanya sekedar di mulut saja. Namun dari hati terdalam tetap dia menginginkan untuk mengungkap yang sebenarnya terjadi. Dengan segala resiko yang ada, Novel menegaskan akan mengungkapkan bukan saja yang terkait dengan dirinya namun pelakunya, serta penyerangannya merupakan penyerangan terhadap KPK.

Ditegaskan dia tidak menuduh siapa-siapa. Apa yang dikatakannya itu apa adanya, dan tidak berbicara di wilayah abu-abu. Kembali ditegaskan pula, bahwa korupsi tidak akan bisa diberantas jika masih ditutup-tutupi. Dirinya juga mendesak kepada presiden untuk mengungkap kasus ini. Ditegaskan alasannya mengapa harus presiden bukan Polri yang merupakan institusi, karena pihak kepolisian tidak ingin mengungkap kasus ini. Maka dari itulah, dirinya meminta untuk mengungkap kasus ini kepada atasannya polisi. Ini dilakukan bukan sebagai bentuk kemarahannya, karena memang dirinya adalah korban. Hal ini dikarenakan masalah pengungkapan pelaku teror karena telah mengungkapkan kasus korupsi sama pentingnya dengan pemberantasan korupsi. Demikian seperti yang ditegaskan Novel Baswedan di gedung Merah Putih, KPK.

(sumber berita : https://www.antaranews.com/berita/730540/novel-baswedan-kembali-bekerja-di-kpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *