Kebijakan LTV, Antara Optimis Dan Pesimis

SuaraDemokrasi.com – Ada beberapa hal yang memungkinkan kegalauan dari para pengembang dengan adanya kebijakan LTV yang baru. Meski pengembang menyambut baik angin segar ini. Kapan lagi bisa resmi jualan properti tanpa uang muka?! Namun ada beberapa hal yang mengkhawatirkan, yuk simak saja….

Pertama -> Strategi tanpa uang muka atau strategi uang muka ringan sebenarnya bukan barang baru di dunia jual beli properti baik. Selama ini sering kali diterapkan sebagai “jurus ampuh dosis tinggi” saat penjualan dipandang seret. Sangat gampang bagi pengembang mereka-reka penjualan unit tanpa uang muka.

Dan tingkat suksesnya tinggi dalam menjebak konsumen melakukan booking unit, tapi konsumen akan banyak “terlempar” ketika keputusan pemberian kredit dari bank memaksa mereka menambah uang muka.

Bedanya bila kebijakan LTV jadi dilaksanakan, kegiatan promosi tanpa uang muka menjadi kegiatan yang 100% legal dari yang sebelumnya berkelit dibalik kata diskon, cashback, mark up harga.

Kedua -> Daya belinya memang lagi surut. BBM naik meski bukan yang premium, tetap akan memberikan impact terhadap kenaikan harga. Ditambah kenaikan listrik dan efek domino kenaikan harga-harga lainnya. Ini membuat masyarakat mengalihkan budget biayanya bukan untuk membeli rumah.

Belum lagi harga properti yang naiknya lumayan tajam sebelum 2014 dan langsam sesudahnya. Inflasi harga properti itu sendiri juga biang dari menurunnya minat beli properti.

Jadi meski didorong dengan kebijakan LTV yang baru, belum tentu akan terdongkrak naik. Kan harganya sudah terlanjur tinggi, kira-kira gitu logikanya.

Ketiga -> Kebiasaan bank dalam memitigasi resiko. Selama ini sudah menjadi pakem dan SOPnya bahwa beli rumah harus menggunakan uang muka, karena dengan adanya uang muka, resiko bank akan terkurangi. Nah jargon-jargon ini sudah ada sejak klama dan sudah tertanam mindsetnya di kalangan banker. Dan ini tidak semudah merubah sistem dan aplikasi perhitungan KPR di komputer.

Ketiga -> Suku bunga BI naik untuk merespon dollar yang naik pula dengan harapan masyarakat lebih senang pegang rupiah. Tapi simalakama akan membuahi suku bunga kredit menjadi lebih tinggi pula. Padahal sektor properti ini sangat rentan dengan kenaikan suku bunga kredit. Coba deh hitung aja pake kalkulator kredit, kl bunga naik 1%, maka angsuran akan naik berapa bila hutang 100jt.

Dari sisi konsumennya, mungkin akan terkaget-kaget ketika membandingkan jumlah angsuran rumah dengan uang muka versus angsuran rumah tanpa uang muka. Ya karena ini memang bukan program memurahkan harga rumah, tapi memudahkan orang beli rumah tanpa uang muka atau uang muka ringan. Otomatis angsurannya lebih besar.

Keempat -> Kampanye tanpa riba menjadikan bank wajib dihindari dalam hal pinjam meminjam termasuk pinjaman KPR. Meski konstituennya terbagi antara “tanpa riba dan tanpa bank” dengan “tanpa riba dengan bank syariah”, tapi kelompok ini makin hari makin membesar seiring kesadaran masyarakat tentang tanpa riba. Kelompok ini tidak akan terpengaruh dengan adanya kebijakan kredit bank dalam bentuk apapun kecuali bank telah mengeluarkan produk tanpa riba versi mereka.

Pengembang tanpa riba pun juga muncul berjamuran untuk merespon semakin meningkatnya konsumen tanpa riba. Otomatis, mereka tidak membutuhkan kebijakan LTV ini.

—-

So, apakah kebijakan LTV ini salah? Ada secercah harapan bangkitnya kembali sektor properti seperti tahun 2009-2014. Kebijakan LTV yang baru ini hanya mungkin situasionalnya kurang tepat karena dollar lagi panas dan suku bunga BI pas lagi naik.

Mungkin lagi butuh paracetamol.

Keenan | pengamat properti berkemajuan

One Comment on “Kebijakan LTV, Antara Optimis Dan Pesimis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *