Sebanyak Seratusan Warga Tiongkok Bekerja di Nabire

Para pekerja Tiongkok

SuaraDemokrasi.com – Pihak Imigrasi Kelas II Tembagapura, Timika, Papua mensinyalir ada seratusan warga negara Tiongkok yang bekerja di perusahaan-perusahaan tambang emas rakyat di wilayah Kabupaten Nabire tanpa melapor secara resmi pada instansi terkait.

Kepala kantor Imigrasi Tembagapura, Jesaja Samuel Enock, di Timika Senin (11/6) mengatakan bahwa ada dugaan terdapat seratusan warga negara Tiongkok bekerja secara ilegal di perusahaan tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire. Hal itu diketahui berdasarkan laporan dari masyarakat terutama dari dewan adat setempat.

“Bukan puluhan saja jumlahnya, bahkan bisa sampai ratusan orang. Hal ini sudah berlangsung lama tanpa adanya pengawasan,” kata Samuel.

Tim pengawasan itu dipimpin langsung oleh Samuel sendiri di kantor Imigrasi Tembagapura yang terdiri dari lima personel. Mereka langsung mendatangi empat lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire sejak Jumat (8/6) dan menemukan sejumlah warga negara Tiongkok yang bekerja di lokasi itu.

Empat lokasi tersebut terletak di kilometer 70, kilometer 52, kilometer 38, dan kilometer 30 di ruas jalan Trans Nabire-Enarotali Paniai.

Lokasi-lokasi itu berada di dalam kawasan hutan rimba Papuan di wilayah Kabupaten Nabire, yang letaknya di perbatasan lagari dengan lokasi air terjun.

“Untuk mendeteksinya, kami harus jalan masuk lagi sekitar 30 meter ke arah gunung. Kami mendapat laporan dari masyarakat bahwa ada lebih dari 10 lokasi tambang emas rakyat di Nabire yang juga memperkerjakan warga negara Tiongkok. Hingga sekarang kami baru bisa menjangkau empat lokasi tambang emas rakyat,” ujarnya.
13 warga Tiongkok yang telah dievakuasi ke Timika kini sedang menjalani penahanan sementara di ruang detensi Imigrasi Tembagapura untuk menunggu pemeriksaan lebih lanjut karena masih menunggu pengiriman dokumen keimigrasian oleh pihak penjamin.

Ketika dilakukan pemeriksaan awal di lokasi tambang emas rakyat Nabire, para pekerja asal Tiongkok itu tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian kepada petugas. Mereka diduga kuat telah melanggar Pasal 71 jo Pasal 116 jo Pasal 112 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Saat ditertibkan, sejumlah warga negara Tiongkok itu sempat melakukan perlawanan dan tidak mau dibawa petugas.

“Hal itu mungkin saja mereka merasa sudah dibackingi. Mereka memaksa kamu untuk membawa ke kantor polsek terdekat, namun kami tetap berpendirian tegas bahwa mereka telah melanggar pasal keimigrasian bukan pidana umum,” jelas Samuel.

Samuel juga menambahkan, bahwa masyarakat terutama dewan adat Nabire sangat membantu proses pengungkapan adanya seratusan warga negara Tiongkok yang diduga telah menjadi pekerja ilegal di tambang-tambang emas rakyat di wilayah Papua itu.

“Masyarakat merasa tidak puas dan dibohongi oleh perusahaan-perusahaan tempat warga negara Tiongkok itu bekerja. Pasalnya yang membawa alat berat dan melakukan proses produksi semuanya pekerja dari Tiongkok. Tidak adanya tenaga lokal yang terlibat dalam proses produksi, bahkan dilarang untuk diikutsertakan. Maka dari itu masyarakat tidak pernah tahu menahu berapa hasil produksi dari tambang-tambang itu,” jelas Samuel.

(Sumber : https://www.antaranews.com/berita/717836/imigrasi-seratus-warga-tiongkok-bekerja-di-nabire)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *