Pemuda Garda Depan Penjaga NKRI [Kolom Afnan Hadikusumo]

Bangsa Indonesia saat ini sedang kewalahan dalam menghadapi arus globalisaai yang kian hari kian pesat. Perkembangan teknologi informasi yang cepat sekali mengakibatkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi mengakibatkan orang akan menjadi lebih jarang berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya, sehingga kemampuan interpersonal dan emosionalnya tidak berkembang secara optimal. Lama kelamaan, seseorang akan sulit menjalin komunikasi dan membangun relasi dengan orang-orang disekitarnya, dan itulah yang saat ini menghinggapi generasi muda Indonesia. Generasi muda Indonesia saat ini mudah sekali menelan informasi yang bersifat hoax sekalipun. Akibatnya sangat rentan terjadinya konflik antar warga masyarakat, dan ujung-ujjungnya adalah terjadinya disintegrasi bangsa. Demikian dikatakan M. Afnan Hadikusumo Wakil Ketua Panitia Perancang Undang-Undang DPD RI, di sela-sela acara Sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika kerjasama antara MPR RI dengan DPP Ikatan Mahasiswa Alumni Madrasah Mu’allimin Mu’allimat di Aula Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah (31 Mei 2018).

Yang lebih memprihatinkan saat ini adalah ada kecenderungan para pemuda terbawa fobia berlebihan pada militerisme, sehingga melahirkan sikap anti pada segala atribut yang berbau militer. Antimiliterisme pemerintahan adalah sebuah kewajiban, tapi tidak berarti sama dengan anti pada segala atribut militer. Sebab jika militer tidak ada, lalu siapa yang akan menjaga NKRI dari intervensi asing?

Paradoks ini melahirkan kecenderungan pemuda yang acuh tak acuh pada peran ketahanan NKRI. Mereka sendiri yang selalu tegas meneriakkan anti asing, tanpa menawarkan opsi fungsi peran sendiri. Bukan tidak mungkin, sikap seperti ini menghilangkan rasa percaya diri lembaga ketahanan NKRI karena merasa dimusuhi dari dalam, padahal mereka bertaruh nyawa untuk melindungi NKRI dari luar. Tidak adanya hubungan baik pemuda-militer ini, juga bisa menjadi alasan mengapa negara tetangga berani menginjak-injak kehormatan wilayah kedaulatan Indonesia.

Dalam kata akhirnya, cucu pahlawan nasional Ki Bagoes Hadikusumo itu mengatakan sesungguhnya pemuda memiliki potensi yang besar dalam menyelesaikan persoalan bangsa, terutama persoalan yang menyangkut keutuhan NKRI, meski tidak dipungkiri bahwa persoalan dalam diri pemuda juga banyak. Yang terpenting adalah kesadaran pemuda untuk mampu merubah dirinya dari objek pembangunan menjadi subjek pembangunan dan mampu tampil untuk memajukan bangsa ini. Namun itu dengan syarat, yakni bangga sebagai bangsa Indonesia, mampu menjaga persatuan dan kesatuan wilayah bangsa, setia menjaga kekayaan budaya dan keragaman suku bangsa dengan saling menghormati perbedaan, tetap menjaga kekayaan alam Indonesia sebagai warisan untuk digunakan generasi bangsa di masa mendatang, serta mau menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Penulis :
Muhammad Afnan Hadikusumo
Anggota  DPD RI perwakilan Provinsi DIY periode tahun 2014 – 2019
Calon anggota DPD RI perwakilan Provinsi DIY periode tahun 2019 – 2024
Web : http://afnanhadikusumo.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *