Penerapan Pola Sekulerisme di dalam Sistem Pemerintahan Indonesia Perlu Belajar dari Turki

Sistem pemerintahan sekuler

SuaraDemokrasi.com – Bagi mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat antara Indonesia dengan Turki memiliki beberapa kemiripan. Kemiripan tersebut dilihat dari tradisi masyarakat muslimnya yang ke-arab-araban serta posisinya berada di “pinggiran” dalam pandangan orang Timur Tengah.

Meskipun memiliki kemiripan, bukan berarti tidak ada perbedaan. Hal yang membedakan dari kedua negara ini, yaitu mengenai kemampuannya memisahkan negara dan agama. Komaruddin menyatakan bahwa, Turki mampu dan berhasil menerapkan sekularisme di dalam sistem pemerintahannya.

Isu agama yang sedang marak di tengah kondisi negara, Turki diharapkan mampu menjadi wahana belajar bagi pemerintahan Indonesia. Disebutkan olehnya, sekularisme menurutnya bernilai positif dalam melakukan seleksi yang didasarkan pada kompetensi. Tidak hanya melulu berjualan simbol agama namun ke arah program kerja. Demikian yang disampaikan Komaruddin ketika sedang melakukan peluncuran dan diskusi buku yang berjudul, “Teori Revolusi tak Pernah Berhenti” yang merupakan hasil karya dari seorang wartawan salah satu media Trias Kuncahyono di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (23/5).

Memang hal tersebut tidaklah mudah. Hal ini mengingat Turki memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia. Turki memiliki akar tunggal akan kejayaan Islam serta bangsanya yang homogen. Hal tersebut tentu beda dengan Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya, suku, agama, serta kepercayaan.

Sebagai bangsa yang homogen, Turki sudah selesai dengan pluralisme namun di Indonesia berbeda. Indonesia merupakan negara yang plural sehingga bisa dibilang bangsanya heterogen. Pada kesempatan tersebut, menurut Komaruddin, bahwa konsep sekularisme di Indonesia dalam sistem pemerintahan perlu pembelajaran lebih lanjut dari Turki.

Di tengah maraknya isu agama yang kian meruncing, Indonesia selalu dihadapkan dengan polemik yang tak berkesudahan. Maka dari itulah, untuk menerapkan sistem pemerintahan yang berkonsep sekular, Turki menjadi tempat yang pas bagi Indonesia untuk belajar dan mengambil referensi dari pemerintahan negara pimpinan Erdogan tersebut.

Maka tidak heran bila Komaruddin menyatakan bahwa sekularisme ini dipandang positif bukan sebagai media seleksi yang lebih berkompeten. Diharapkan bisa menjadi titik berat untuk membuat sebuah program kerja.

(Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2018/05/23/23004901/indonesia-perlu-belajar-dari-turki-soal-penerapan-sekularisme-dalam-sistem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *