Melemahnya Nilai Rupiah, Harga Makanan dan Minuman Siap-siap Akan Naik

Harga makanan dan minuman

SuaraDemokrasi.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menyebabkan sejumlah sektor industri ikut terdampak akibat pelemahan tersebut. Salah satunya adalah industri makanan dan minuman. Hal ini perlu dimaklumi, karena bahan baku sektor makanan dan minuman masih mengandalkan impor.

Tak dipungkiri, saat dollar Amerika Serikat menguat hal tersebut menyebabkan biaya produksi kian membengkak. Sedang untuk harga jual produk menggunakan rupiah, karena sasarannya adalah pasar domestik.

Adhi S Lukma, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia mengungkapkan bahwa anggota akan melakukan evaluasi terkait fluktuasi dari nilai tukar rupiah pada usai lebaran nanti. Menurutnya, saat ini stok bahan baku yang kebanyakan mengandalkan impor telah disiapkan sejak Maret lalu.

Namun jika situasi tersebut tersebut berlanjut, maka hingga tutup kuartal kedua, bisa jadi ke kuartal ketiga kenaikan harga tidak bisa dihindari. Demikian seperti yang diungkapkan Adhi S. Lukman pada Rabu (23/5).

Berdasarkan catatan dari Gappmi, hingga saat ini industri makanan dan minuman sangat bergantung pada bahan baku impor. Bahan baku tersebut seperti misalnya, terigu, gula, susu, serta produk-produk perasa buah. Jika situasi ini terus berlanjut tentu akan menyebabkan kenaikan harga antara 3-7 persen, sebutnya.

Penurunan nilai tukar rupiah ini akan berdampak penurunan omzet di sektor industri makanan dan minuman. Dan itu berarti, Gappmi sangat mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang tetap baik sehingga tidak menggerus omzet. Adhi juga menyatakan bahwa anggota Gappmi tidak merasa panik dengan menurunnya nilai tukar rupiah ini. Dirinya menilai bahwa langkah Bank Indonesia diharap mampu meredam terjadinya fluktuasi tersebut.

Meskipun belum memiliki data riil mengenai kenaikan permintaan makanan dan minuman, Gappmi mengklaim bahwa anggotanya telah mengalami pertumbuhan penjualan dibandingkan tahun lalu. Menjelang lebaran tahun ini, diperkirakan permintaan akan tumbuh sebesar 20% terutama pada produk biskuit dan sirup.

Selain itu investasi dalam negeri di sektor makanan dan minuman menurutnya masih ada kenaikan. Kemudian untuk penanaman modal asing masih terlihat melambat. Maka dari itulah, Adhi menilai bahwa investasi perlu memiliki kepastian mengenai regulasinya yang jelas dari pemerintah.

(Sumber : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/25/194700526/rupiah-melemah-siap-siap-harga-makanan-dan-minuman-naik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *