Kampung Pesantren Dusun Mlangi Tempat Pelajar Non Muslim Mondok

Bersebelahan dengan Dusun Sawahan, Nama Dusun Mlangi yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta menjadi terkenal setelah adanya peristiwa penghadangan pelari maraton dikarena masalah busana di Dusun Sawahan tersebut.

SuaraDemokrasi.com – Bersebelahan dengan Dusun Sawahan, Nama Dusun Mlangi yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta menjadi terkenal setelah adanya peristiwa penghadangan pelari maraton dikarena masalah busana di Dusun Sawahan tersebut.

Setelah insiden tersebut, oleh sebagian netizen, Dusun Mlangi dianggap sebagai kampung yang intoleran. Namun faktanya, Mlangi merupakan kampung pesantren yang menjadi rujukan untuk studi Islam bagi para mahasiswa asing, bahkan pendeta dan pastor.

Seperti contoh pada 23 sampai 25 Juli 2017 lalu, pesantren di Dusun Mlangi tersebut menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa asing yang beragama katolik pada kegiatan forum teologi Asian Youth. Di Mlangi mereka ingin belajar bagaimana sistem belajar di Madrasah.

Mahasiswa asing tersebut menginap di Pondok Pesantren (ponpes) Aswaja Nusantara dalam bimbangan Muhammad Mustafid. Mereka juga ingin merasakan suasana ala Kampung Mlangi yang juga sebagai situs agama islam tertua di DIY.

Para mahasiswa dari Amerika Serikat tersebut tidur bersama para santri dan beraktivitas bersama seperti santri lain.

Mengutip dari Kompas.com, pada Selasa (8/5/2018), Mustafid mengatakan, “Kami juga sering kedatangan pendeta dan pastor yang ingin belajar tentang Islam di pesantren kami”.

Dusun Mlangi yang berada di Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, sebelah Barat Kota Yogyakarta ini juga merupakan salah satu pusat PonPes di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bermulanya pesantren tersebut, Mustafid menceritakan, Dusun Mlangi dahulu didirikan oleh Kyai Nur Imam kakak beda ibu dari Hamungkubuwono I.

“Kyai Nur Iman ini kakak Hamungkubuwono I tetapi beda ibu. Nah, sebenarnya Beliau yang bertakhta, tetapi diserahkan ke adiknya, Hamungkubuwono I,” jelas Mustafid.

Pada tahun 1755 saat perjanjian Giyanti terjadi, Kerajaan Mataram terpecah menjadi 2, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta.

Lalu Kyai Nur Imam memilih hidup di luar keraton  dan berbaur dengan masyarakat. Dia juga ingin melanjutkan perjuangannya pendidikan pesantren dan berdakwah, serta kabudayaan.

Seiring dengan berjalannya waktu, di Dusun Mlangi kini terdapat 17 Pondok Pesantren.

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2018/05/09/09514911/dusun-mlangi-kampung-pesantren-tempat-mondok-pelajar-non-muslim

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *