Efek Jera Pidana Mati Pada Kasus Korupsi Dinilai Hanya Asumsi

Akademisi Hukum Pidana dari Universitas Parahyangan yaitu Agustinus Pohan, memberikan kritik terkait dengan penerapan hukuman mati di dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Menurutnya, hingga saat ini belum terdapat penelitian yang dapat dijadikan dasar sebagai penerapan pidana mati. Baik pihak pemerintah ataupun DPR menilai bahwa hukuman mati bisa memberikan efek jera.

SuaraDemokrasi.com – Akademisi Hukum Pidana dari Universitas Parahyangan yaitu Agustinus Pohan, memberikan kritik terkait dengan penerapan hukuman mati di dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Menurutnya, hingga saat ini belum terdapat penelitian yang dapat dijadikan dasar sebagai penerapan pidana mati. Baik pihak pemerintah ataupun DPR menilai bahwa hukuman mati bisa memberikan efek jera.

SuaraDemokrasi.com, “Orang kan hanya mengasumsikan semakin berat pidana maka semakin akan menjerakan, semakin memiliki fungsi pencegahan umum,” kata Agustinus ketika ditemui setelah selesai acara diskusi di Kampus Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Kuningan, Jakarta Selatan, hari Senin tanggal 7 Mei 2018.

Agustinus memiliki pendapat bahwa penerapan hukuman mati justru akan meningkatkan tindak kekerasan yang ada di masyarakat. Menurut dia, dengan diterapkannya ketentuan pidana mati, negara justru telah memberikan pembelajaran pada masyarakat bahwasanya orang yang melakukan kejahatan dapat diambil nyawanya.

Agustinus juga merujuk sebuah hasil dari penelitian di Amerika Serikat. Hasil penelitian tersebut mengatakan, pasca diberikannya hukum pidana mati pada salah satu tersangka maka angka kejahatan terkait adanya pembunuhan malah justru akan semakin meningkat.

Dikutip dari kompas.com, “Bahkan ada satu studi di AS, ketika pidana mati dilaksanakan, justru setelah pidana mati dilakukan, angka kejahatan terkait pembunuhan malah meningkat. Jadi tidak pernah ada kejelasan itu,” ujar Agustinus

Di sisi lain, lanjut Agustinus menganggap hukuman mati adalah suatu bentuk pemidanaan yang tidak dapat dianulir apabila terdapat kesalahan di dalam proses pengadilannya. Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan terdapat puluhan orang di AS yang telah dieksekusi mati, namun ternyata keesokan harinya diketahui bahwa putusan yang ada keliru.

Oleh sebab di saat sebuah keputusan yang ada salah dan tidak kunjung diperbaiki. Dari keburukan inilah yang menjadikan alasan mengapa hukuman mati tidak disetujui oleh Agustinus. Dikutip dari kompas.com, “Ketika putusan pengadilan itu salah, tidak bisa diperbaiki. Jadi karena keburukan-keburukan itu sementara manfaatnya diragukan maka saya mengatakan saya tidak setuju hukuman mati,” ucap Agustianus.

 

 

 

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2018/05/07/23310451/efek-jera-pidana-mati-dinilai-hanya-berupa-asumsi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *