Tradisi Kenduri Hadirkan Semua Tokoh Agama di Gereja Katolik Wates

Kenduri merupakan tradisi masyarakat Jawa yang sudah ada sejak lama. Dalam penyelenggaraan tradisi itu, mereka mengucapkan syukur, selamatan dan memanjatkan harapan secara bersama untuk masa dengan yang lebih baik.

SuaraDemokrasi.com – Kenduri merupakan tradisi masyarakat Jawa yang sudah ada sejak lama. Dalam penyelenggaraan tradisi itu, mereka mengucapkan syukur, selamatan dan memanjatkan harapan secara bersama untuk masa dengan yang lebih baik.

Dalam rangka hari ulang tahun (HUT) ke-82 Gereja Katolik Bunda Maria Penasihat Baik di Wates,  Kulon Progo, Yogyakarta, mengahadirkan ratusan orang dengan dengan latar belakang agama yang berbeda-beda.

Dari semua perwakilan agama, ada hadir dari kelompok Islam, Hindu, Budha, Kristen dan bahkan dari penghayat kepercayaan.

Mereka yang hadir di acara tersebut bergantian dalam memanjatkan doa ucapan syukur sebagaimana tradisi kenduri pada umumnya untuk perjalanan hidup yang panjang dan berkat serta rezeki yang melimpah.

Namun kenduri yang dilaksanakan pada HUT Gereja Katolik Wates ini sedikit berbeda dari kenduri biasanya, karena doa ucapan syukur yang dipanjatkan dari masing-masing agama tentunya berbeda.

Kenduri tersebut juga sebagai ungkapan rasa syukur atas kerukunan antar umat beragama yang berdampingan mesra di Wates. Suasana hening tercipta saat masing-masing perwakilan agama dan penghayat kepercayaan memanjatkan doa.

Seperti yang dikutip dari kompas.com, Pastor Paroki Gereja Katolik Wates, pada Rabu (25/04/2018), Nugroho Agung mengatakan, ”Ini wujud serawung atau bergaul dengan masyarakat demi membangun peradaban kasih di masa depan.”

Adapun tradisi kenduri ini sebenarnya telah diselenggarakan oleh Geraja Katolik sejak lama, ungkap Nugroho Agung.

Semua Gereja, lanjut Agung, juga melakukan hal serupa. Selain megungkapkan rasa syukur, tujuan lain dari tradisi tersebut adalah untuk menciptakan kerukunan antar-warga dengan latar belakang agama yang berbeda, sejahtera, penuh kasih, beriman, dan bermartabat.

Diselenggarakannya kenduri tersebut dipilih sekaligus mempertahankan tradisi pada masyarakat Kulon Progo yang masih gemar menonjolkan budaya tersebut.

Tradisi dan kebudayaan tersebut memang sudah semestinya dipertahankan diberbagai aspek kehidupan warga di tengah zaman yang semakin maju dan tantangan yang semakin besar di Kulon Progo.

Seperti yang dikatakan oleh Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo, bahwa kearifan dalam masyarakat ini adalah suatu identitas.

“Ini bisa jadi identitas komunitas dalam masyarakat di Kabupaten kita, sekaligus memperkuat Keistimewaan Yogyakarta,” ujar Sutedjo.

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2018/04/26/10350091/tradisi-kenduri-di-gereja-katolik-wates-perwakilan-semua-agama-hadir-ucapkan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *