Laku Pandai Pelayanan Keuangan Basis Digital Belum Banyak Yang Tahu

LPEM atau Lemabaga Penyidikan Ekonomi dan Masyarakat dari FEB Universitas Indonesia (UI) telah mendapati ada banyak sekali orang yang saat ini masih belum paham dan tahu mengenai program laku pandai serta pelayanan keuangan berbasis digital. Dikutip dari kompas.com, hal tersebut diketahui sejak adanya survei keuangan insklusif yang telah dijabarkan pada Selasa, 10 April 2018 yang bertempat di Hotel Borobudur

SuaraDemokrasi.com – LPEM atau Lemabaga Penyidikan Ekonomi dan Masyarakat dari FEB Universitas Indonesia (UI) telah mendapati ada banyak sekali orang yang saat ini masih belum paham dan tahu mengenai program laku pandai serta pelayanan keuangan berbasis digital. Dikutip dari kompas.com, hal tersebut diketahui sejak adanya survei keuangan insklusif yang telah dijabarkan pada Selasa, 10 April 2018 yang bertempat di Hotel Borobudur.

Laku Pandai adalah sebuah layanan keuangan tanpa adanya kantor dalam keuangan yang insklusif. Sedangkan keuangan basis digital adalah bentuk perluasan dari sistem layanan pembayaran dari kantor fisik maupun pihak ketiga yang sering disebut dengan agane.

Prani Sastiono selaku anggota dari LPEM UI menyatakan bahwasanya responden masih belum paham mengenai dua program tersebut, bahkan mayoritas justru menyatakan bahwa dirinya tak membutuhkan layanan laku pandai dan layanan basis digital.

Penelitian berlangsung sejak bulan Oktober 2017 sampai bulan Januari 2018 yang berada di 9 provinsi dan 2 kota maupun kabupaten. Untuk jumlah responden yang ada adalah 1.038 responden. Hal yang membuat para responden dengan menggunakan layanan ini adalah biaya penarikan maupun pembayaran yang relatif cukup tinggi.

Biaya ini memang sulit untuk dikontrol sebab laku pandai telah menerapkan sistem hitungan dari mereka sendiri. Agen menetapkan sejumlah biaya dari dasar kondisi dan keadaan tertentu, misalkan saja misalkan biaya untuk menyetorkan uang di saat agen sudah istirahat dengan jam kerja akan memiliki nominal yang berbeda.

Ada banyak sekali responden yang enggan memenuhi minimum saldo dari rekening di Laku Pandai sebanyak 20.000 dan juga tidak mau beli kartu layanan seharga 50 ribu. LPEM mengharapkan untuk dilakukan pemetaan terkait sosialisasi dari wilayah masyarakat yang saat ini belum mempunyai rekening di bank.

Beberapa daerah yang menjadi target laku pandai dan layanan keuangan basis bank adalah daerah yang masih sedikit kantor cabang dari bank, jasa koperasi layanan simpan pinjam yang mana jumlah dari rekening nasabah yang masih sangat rendah. Untuk mendapatkan nasabah yang banyak laku pandai harus memaparkan jumlah biaya yang lebih transparan.

 

 

Sumber: Https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/10/222344026/masih-banyak-yang-belum-tahu-laku-pandai-dan-layanan-keuangan-digital

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *