Kronologi Bentrokan Warga dan Polisi di Sumba Barat Sebabkan Tewasnya Poro Duka

Atas tragedi antara anggota Kepolisian Resor Sumba Barat dengan para warga Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan tewasnya seorang warga bernama Poro Duka.

SuaraDemokrasi.com – Atas tragedi antara anggota Kepolisian Resor Sumba Barat dengan para warga Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan tewasnya seorang warga bernama Poro Duka.

Tewasnya Poro Duka akibat bentrokan tersebut membuat pihak keluarga meminta pertanggung jawaban penuh kepada polisi.

Juru Bicara keluarga Poro Duka, Petrus Lolu, mengatakan awal kejadian tersebut bermula pada tanggal 25 April 2018 ketika rombongan PT Sutra Marosi Kharisma bersama dengan pihak Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Sumba Barat, anggota Polres Sumba, anggota Polsek Lamboya, Satuan Brimob Polres Sumba dan anggota TNI Kodim Sumba Barat mendatangi Matosi, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya.

Maksud dari kedatangan petugas BPN, TNI dan ratusan personel polisi tersebut untuk mengecek dan mengukur batas tanah.

Seperti yang dikatakan Petrus kepada Kompas.com, pada Minggu (29/04/18), “Kedatangan mereka tanpa ada pemberitahuan kepada masyarakat. Sementara masyarakat berdatangan ke lokasi tersebut untuk menyaksikan kegiatan tersebut.”

Namun ketika masyarakat berdatangan ke lokasi tersebut, aparat Polres Sumba Barat malah menghadang dan melarang para warga untuk mendekat.

Kemudian sempat terjadi juga keributan antara pihak BPN dan masyarakat saat pengecekan tapal batas sampai pada bidang tiga, dan sekali lagi masyarakat dihadang oleh anggota Polres Sumba.

Saat itu, masyarakat dihimbau oleh Kepala Desa Patiala Bawa agar tidak melakukan tindakan anarkis, ungkap Petrus.

Imbauan itu pun ditaati oleh masyarakat dan membiarkan BPN serta polisi mengecek tapal batas mulai dari bidang 3, 4, dan 5.

Lalu saat pengukuran tersebut sampai di bidang lima, sekitar pukul 15.00 WITA, karena petugas mengecek jalan ritual agama Marapu yang disucikan oleh penganutnya, masyarakat pun melakukan klarifikasi kepada petugas.

“Pada saat yang bersamaan, beberapa anggota Polri mendorong anak-anak dengan kasar. Salah satu warga masyarakat atas nama Seprianus Djari mengambil gambar tersebut menggunakan kamera ponsel miliknya, tetapi anggota polisi melarang dan berusaha merampas ponsel serta langsung melakukan penganiayaan kepada Seprianus Djari,” terang Petrus.

Menyaksikan penganiayaan tersebut, para warga segera menarik dan menolong Seprianus. Namun, setelah itu polisi mengeluarkan tembakan beberapa kali dan mengenai dada Poro Duka yang langsung meninggal di tempat kejadian

Selain itu, polisi juga melakukan penganiyaan kepada sejumlah warga dan mengakibatkan seorang warga lainnya tertembak pada kedua kakinya.

Sementara itu, menurut Kabid Humas Polda NTT Kombes Jules Abraham Abast, sebenarnya pengamanan telah dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2018/04/29/15151551/kronologi-tewasnya-poro-duka-dalam-bentrokan-warga-dan-polisi-di-sumba-barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *