Kisah Inspirasi Dari Seorang Lulusan Cumlaude IT “David Wijaya” Yang Banting Setir Merambah Bisnis Corat-coret

Kelulusan dianggap oleh pria 27 tahun bernama David Wijaya sebagai suatu pertarungan. Pria yang lahir di Medan ini adalah owner dari bisnis suvenir berlabel DWSkelliton. Momen ini memang sebuah pertarungan bagi David, sebab pada umur yang tergolong muda David sudah mulai dihadapkan dengan pilihan yang cukup krusial.

SuaraDemokrasi.com – Kelulusan dianggap oleh pria 27 tahun bernama David Wijaya sebagai suatu pertarungan. Pria yang lahir di Medan ini adalah owner dari bisnis suvenir berlabel DWSkelliton. Momen ini memang sebuah pertarungan bagi David, sebab pada umur yang tergolong muda David sudah mulai dihadapkan dengan pilihan yang cukup krusial.

Pilihan tersebut adalah pilihan diantara maju di bidang yang digeluti yaitu IT atau menjalankan sebuah bisnis baru. “Saya mendapatkan predikat cumlaude dan telah mendapatkan banyak penawaran pekerjaan sebelum studi kuliah saya terselesaikan.” Ujar David, yang dikutip dari Kompas.com saat dirinya berada dalam acara Makerfest tahun 2018 di Kota Medan.

Sebelum memutuskan merambah bisnis, pemuda lulusan STIMIK Mikroskil ini juga pernah dijanjikan perusahaan yang berniat untuk merekrut dirinya dengan membebaskan semua biaya pendidikan S2 untuk David. Tawaran sekolah lagi ini tidak hanya berada di dalam negeri saja namun juga sampai ke laur negeri.

Ketika berada pada sebuah pilihan yang cukup sulit, David mulai ingat dengan hobinya yaitu menggambar. David memanfaatkan hobi menggambarnya sejak lulus SMA menjadi sebuah bisnis corat-coret. Pendapatan pertama yang diperoleh sebanyak 200 ribu dengan membuat pesanan gambar berjumlah 30 buah dalam rangka memperingati hari Kartini.

Jenis gambar yang dibuat oleh David yaitu doodle art, namun ada kalanya coretan tangannya terlihat lebih abstrak, tetapi ada beberapa bagian pada gambar yang lebih menonjol dengan makna tertentu. “Waktu pertama menerima dan membuat pesanan ini, rasanya lelah bukan main, sebab saya tidak menyangka jika pesanan yang diterima akan sebanyak ini.” penjelasan David.

Setelah melalui beberapa perhitungan yang mendalam pada akhirnya David memilih keputusan untuk menjadi seorang kreator lokal. Keputusan yang diambil juga mulai dilakukan beberapa pembenahan bisnis.

David mulai memberikan nama yang menarik pada produk suvenir yang dibuatnya dan juga memasarkannya melalui Instagram yang isinya khusus produknya. Selain itu dia juga menawarkan produknya ke beberapa kerabat dan mencoba bergabung pada market place terkenal di Indonesia yaitu Tokopedia.

Sumber : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/09/071100126/-kisah-david-wijaya-cum-laude-it-yang-banting-setir-ke-bisnis-corat-coret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *