Direksi Pertamina, Alasan Perombakan Dinilai Tidak Berdasar

Masalah perombakan direksi PT Pertamina (Persero) mengenai Premium dan tumpahan minyak dinilai tidak berdasar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Energy Watch Indonesia.

SuaraDemokrasi.com – Masalah perombakan direksi PT Pertamina (Persero) mengenai Premium dan tumpahan minyak dinilai tidak berdasar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Energy Watch Indonesia.

Dikutip dari laman Kompas.com, berdasarkan penilaian dari Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, pemerintah dinilai hanyalah mencari-cari alasan saja dalam pencopotannya Elia Massa Manik dari posisinya sebagai direktur utama.

Seperti dilansir oleh Kontan.co.id, dalam keterangannya, Sabtu (21/04/2018), Mamit mengatakan, “BBM Premium sendiri, kan  sudah tidak disubsidi. Tapi memang dibutuhkan masyarakat. Jadi agak sensitif kalau BBM ini hilang.”

Dia pun menilai  atas perombakan direksi Pertamina malah lebih cenderung pada unsur politik dari pemerintah. Ia juga mengatakan bahwa sebagai alat pencitraan, pemerintah harus menyediakan BBM Premium menjelang Pilpres 2019.

Hal tersebut karena sosok Elia Massa masih dinilai layak dalam memimpin perusahaan migas nasional tersebut. Sebab, Elia Massa sendiri masih sangat vokal dalam menangani masalah-masalah pada sektor migas, khususnya BBM Premium dan tumpahnya minyak di Balikpapan

Mengenai masalah perombakan direksi PT Pertamina, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, sebelumnya juga berkomentar, bahwa dalam pencopotan Elia Massa Manik dari jabatan Direktur Utama, sebagai salah satu langkah yang sarat akan nuansa politik.

Saat perbincangannya dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (21/04/2018), Marwan mengungkapkan, “Masalahnya adalah kebijakan populis ingin terus dilaksanakan, direksi menghambat, makanya disingkirkan.”

Marwan juga berpendapat, bahwa kebijakan populis yang diinginkan pemerintah yaitu berupa penugasan bahan bakar minyak (BBM) harus tetap dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia. Namun di sisi lain, atas penugasan tersebut Pertamina merasa akan menimbulkan kerugian, sehingga untuk mengatasinya perusahaan melakukan beberapa manuver.

Berbeda dengan Marwan, Pengamat Energi Fahmy Radhi, yang dulu juga anggota dari Tim Anti Mafia Migas, berpendapat bahwa menurutnya hal tersebut adalah wajar jika Elia Massa dilengserkan dari jabatannya dan wajar jika terjadi perombakan direksi.

Aksi manuver dalam menjaga keuntungan korporasi itu, semestinya janganlah sampai memicu terjadinya kelangkaan pada Premium. Terlebih lagi naiknya harga Premium tersebut memiliki efek domino.

Sumber: https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/22/144500026/alasan-perombakan-direksi-pertamina-dinilai-tidak-berdasar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *